Minta Tambahan Kuota, Dijadikan Ujicoba Pembatasan

Malang, mungkin kita bisa berkata demikian atas apa yang akan kita alami ke depannya. Betapa tidak, antrian panjang pengisian BBM di SPBU-SPBU yang diharapkan akan segera berakhir justru akan semakin lama. Hal ini didasari atas wacana BPH Migas untuk menjadikan Kalimantan Selatan (Kalsel) sebagai daerah percobaan sistem pembatasan BBM Bersubsidi yang baru.

Wacana pembatasan ini sudah berulang kali digaungkan BPH Migas dan Pertamina terkait “Kebocoran” BBM bersubsidi yang imbasnya menggerogoti APBN. Akan tetapi, pemilihan Kalsel sebagai daerah ujicoba dirasa kurang tepat. Jika alasan yang dipakai karena tingkat konsumsi BBM yang tinggi di Kalsel, hal itu tak bisa sepenuhnya dijadikan dasar. Masih banyak daerah lain yang tingkat konsumsinya tak kalah tinggi. Misalkan saja daerah Ibu Kota dan sekitarnya, tingkat konsumsinya jauh lebih tinggi. Akan tetapi, dengan alasan stabilitas perekonomian dan politik (wilayah ibu kota), pembatasan BBM jadi sulit dilaksanakan di daerah bersangkutan.

Memang, tingkat konsumsi BBM tiap tahunnya akan terus naik. Hal ini dipengaruhi dengan tingkat penjualan kendaraan bermotor yang ikut naik tiap tahunnya. Pemerintah terkesan plin-plan, mendukung peningkatan penjualan dengan alasan “pertumbuhan ekonomi”, tetapi kebingungan saat konsumsi BBM melonjak tajam. Jika pemerintah menginginkan pertumbuhan ekonomi di sektor otomotif, tentunya harus dipersiapkan terlebih dahulu hal-hal lain yang berkaitan. Terlebih, dewasa ini BBM menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat, baik untuk keperluan pribadi maupun usaha. BBM memiliki posisi yang sangat sensitif di masyarakat. Sedikit saja masalah terkait BBM, bisa dipastikan terjadi masalah-masalah lain yang berhubungan.

BBM kini sudah menyangkut urusan “makan”. Setiap pekerjaan yang dilakukan masyarakat—terleih masyarakat perkotaan—hampir selalu melibatkan BBM di dalamnya. Mulai dari urusan dapur, kerja, transportasi dan urusan lainnya. Jadi jangan salahkan masyarakat jika banyak mengeluh saat terjadi masalah dalam hal pendistribusian BBM. BBM itu jadi pelengkap keperluan pokok masyarakat.

Lantas, kenapa Kalsel yang menjadi daerah uji sistem baru pembatasan BBM? Bukankah pemakaian BBM di wilayah Kalsel tak terlalu dari kisaran rata-rata kuota BBM Wilayah I, II, III dan IV (rata-rata kuota wilayah III tahun 2009 sekitar 430.289 kilo liter). Entah apa yang melatar belakangi keputusan BPH Migas. Mungkin BPH Migas sudah teramat “kesal” dengan tuntutan-tuntutan dari pemerintah daerah seputar permintaan penambahan kuota. Pada akhirnya, muncul wacana pembatasan baru untuk menegur dan mengingatkan masing-masing daerah bahwa kuota BBM mereka telah ditentukan sebagaimana mestinya.

Sistem pembatasan BBM baru ini sedikit berbeda dibanding sistem pembatasan terdahulu. Jika dulu hanya berupa pembatasan kuota BBM masing-masing SPBU. Kini, pemerintah melalui BPH Migas menerapkan sistem “jam kerja” pada setiap SPBU dalam melayani penjualan BBM. SPBU akan diatur untuk beroperasi pada pagi dan malam hari. SPBU yang beroperasi pada pagi hari, pasokan BBM-nya akan dikirim pada malam hari, sedangkan yang beroperasi pada malam hari akan didistribusikan pada siang hari.

Sistem ini tentu tetap diikuti ancaman permasalahan baru. Dalam penerapannya, sistem baru ini terkesan hanya seperti mengatur “jam antri” bagi para pengguna kendaraan bermotor. Antrian panjang yang selama ini terus menghiasi sejumlah stasiun pengisian bahan bakar tak akan berhenti, hanya berpindah “jam tayang”. Masalah lain adalah serbuan para pelansir BBM pada jam-jam yang ditentukan tersebut. Para konsumen harus tetap beradu dengan para pelansir yang jumlahnya semakin meningkat saat terjadi kelangkaan BBM.

Kita tunggu saja bagaimana nantinya pelaksanaan sistem baru pembatasan BBM ini. Reaksi masyarakat tentu saja menolak keras, tetapi bagaimana nantinya masyarakat akan menujukkan aksinya patut kita tunggu. Akankan terjadi lagi aksi blokade tongkang batu bara menuju Jakarta seperti tahun sebelumnya, atau ada aksi lain sebagai wujud penolakan terhadap wacana BPH Migas yang dirasa kurang adil.

*Foto utama oleh: Andrew Taylor – CC BY

Tinggalkan Balasan