Menyimak problem kemiskinan di negeri tercinta

Hmmm…. gue masih mood nulis artikel yang rada serius, beberapa waktu ini. Dan tulisan kali ini, gue pengen ngeluarin isi akal gue menyangkut masalah kemiskinan.

Kemiskinan? Yah, ini adalah masalah yang pasti dialami setiap negara, gak peduli negara maju, berkembang dan juga negara kurang berkembang. Di indonesia sendiri, masalah ini terus membuat sakit kepala para pemimpin negara. Dari dulu sampai sekarang kemiskinan tetap saja memiliki prosentase tertinggi dari sekian banyak permasalahan di negeri ini (meski seringkali para pemimpin menggembar-gemborkan kalau tingkat kemiskinan sudah menurun).

Dalam KBBI, miskin berarti tidak berharta; serba kekurangan. Kemiskinan berarti keadaan seputar miskin. Dalam pandangan Islam, miskin terbagi menjadi dua, yakni miskin dan fakir. Miskin memiliki makna berpenghasilan namun tidak mencukupi, sedangkan fakir memiliki makna serba kekurangan.

Untuk mempermudah, gue menyimpulkan kata miskin sebagai keadaan dimana tidak dapat mencukupi keperluan hidup. Contoh nyata kemiskinan begitu banyak terhampar di sekitar kita. Orang-orang yang menjadikan kolong jembatan sebagai rumah, anak-anak jalan dan gelandangan yang tiap hari menadahkan tangannya kepada kita, orang-orang yang menjadi gerobak kayu sebagai tempat tinggal dan mencari nafkah.

Apa yang sebaiknya kita lakukan jika menghadapi contoh nyata kemiskinan seperti itu? Bersedih? Iba? Atau marah terhadap kemiskinan mereka? Semua mungkin saja benar, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya.

Gue pernah terkejut ketika mendengar sebuah pernyataan yang begitu tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat yang seharusnya menjadi penyokong rakyat. “Orang miskin itu karena malas bekerja.” Tidak sepantasnya orang yang memperoleh jabatan dan kekuasaan dari dukungan rakyat malah berkata seperti itu. Sifat arogan seperti jadi penyakit beberapa perwakilan rakyat di pemerintahan.

Memang benar, jika kita bermalas-malasan, maka tak akan ada yang dapat kita hasilkan. Tapi, apa tidak pernah terpikir (atau mungkin dianya udah keenakan hidup mewah trus gak pengen merhatiin yang miskin) kalo banyak orang miskin yang banting tulang namun tetap bergelut dalam kubang kemiskinan.

Masalah kemiskinan di Indonesia dipengaruhi banyak hal. Tapi mungkin yang paling berpengaruh adalah masalah pendidikan dan uluran tangan dari pemerintah. Pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Coba kita pikirkan, berapa luas negara Indonesia ini? Berapa luas wilayah kota ataupun daerah yang dapat tersentuh dibanding daerah yang terpencil? Dan berapa jarak yang harus ditempuh jika harus bersekolah bagi anak-anak daerah terpencil? Jika kita pikirkan baik-baik, kita mungkin tahu bagaimana susahnya mereka memperoleh pendidikan.

Bagaimana dengan uluran tangan pemerintah? Memang sudah banyak dibuat program-program yang tujuannya membantu rakyat miskin. Tapi kebanyakan berupa bantuan tunai (cash)? Mana yang lebih baik, bantuan berupa uang atau pelatihan kerja dan bantuan prasarana? Dimana-mana pasti lebih baik yang pelatihan berkelanjutan lah… klo berupa bantuan tunai, terlalu banyak ruang untuk melakukan kecurangan (korupsi, penyelewengan, dll).

Mungkin lebih efektif jika kedua hal tersebut disatukan. Pemerintah bisa mendekatkan pendidikan dengan rakyat di daerah terpencil, baik dengan membangun sekolah ataupun memperbaiki sarana dan prasarana untuk menuju sekolah terdekat (ngeri gue liat anak kecil ke sekolah mesti nyeberang sungai, pa lagi cuma di atas seutas tali). Jika pendidikan sudah menjangkau mereka, pemerintah mendukungnya dengan memberikan pelatihan kerja dan prasarana pendukung lainnya. Logikanya, dengan mendapatkan pendidikan dan pelatihan, mereka mendapatkan kemampuan dan pengetahuan yang membuat prasarana yang disediakan dapat dipergunakan secara maksimal. Hal ini tentunya lebih baik dibanding memberikan bantuan tunai yang kurang mendidik.

Menyikapi masalah kemiskinan di sekitar lingkungan, kita seharusnya turut andil membantu meringankan beban mereka. Bukan hanya dengan memberikan santunan, tapi hal yang lebih bersifat berkelanjutan. Jika kita memiliki usaha, mungkin kita bisa memperkerjakan mereka. Jika kita memiliki waktu dan kemampuan berlebih, kita bisa membantu mereka dengan memberikan pengetahuan. Semua hal bisa kita lakukan untuk membantu mereka. Benar memang orang miskin dan anak gelandang itu tanggungan negara. Coba dipikirkan lagi, apa itu negara, negara memiliki 3 instrumen penting, pertama wilayah, kedua rakyat dan ketiga pemerintahan. Jika orang miskin, gelandangan dan anak jalanan itu tanggungan negara, berarti kita juga memiliki kewajiban untuk mendorong mereka jadi lebih baik lagi.

Satu masalah yang membuat kita kadang enggan untuk membantu adalah kondisi sosial kita sendiri. Jika kita lihat, pola kehidupan kita semakin menutup kemungkinan untuk menjalin komunikasi antar sesama. Paling parah, antar tetangga kurang saling mengenal, hedeh.. hedeh….. pernah gue nemuin kejadian yang bener-bener terlihat gak mengenakkan. Pas lagi makan di satu warteg di Banjarbaru, datang seorang pengemis laki-laki tua. Pas gue pengen ngasi uang, seorang laki-laki yang juga makan di warteg itu malah marah-marah. “Enak bener minta-minta, kerja! Jangan malas, cari uang sendiri!” kata tuh laki-laki dengan nada tinggi.

Hoi bung, sebelum ngomong kayak gitu seharusnya lo mikir dulu. Beliau itu jauh lebih tua dari lo, lo gak sepantasnya ngomong kasar kayak gitu. Kedua, kalau gak mau ngasi ya jangan marah-marah, coba lo berada di posisi beliau, apa yang lo rasain klo dimarahin kayak gitu.

Semoga saja permasalahan kemiskinan di negeri ini dapat dikurangi perlahan-perlahan. Semoga pemerintah lebih proaktif memberikan bantuan yang mampu mendorong mereka. Sehingga tidak ada lagi adegan membentak seperti yang gue alami di warteg itu.

Tinggalkan Balasan