Lalu lintas : masalah rumit

Ini nih salah satu penyakit akut pengendaraan kendaraan bermotor di Indonesia. Kurang tertib di jalan trus buta sama rambu-rambu jalan. Nih penyakit gak ada kata sembuhnya, malah tambah lama tambah parah.

Apa penyebab nih masalah???? Semua kembali pada lo semua. Karena baik lo ataupun beta sendiri pasti pernah (bahkan sering) ngelanggar aturan lalu lintas. Hal yang paling berperan jadi penyebab penyakit ini bisa jadi aturan itu sendiri. Bukannya menyalahkan aturan yang berlaku, tapi menyalahkan positioning dari aturan tersebut bagi para pengendara oleh pihak yang berwenang.

Positioning aturan tersebut terkesan obscuretersebut justru membuat aturan susah untuk dilaksanakan. Pengendaran kebingungan dengan peraturan-peraturan umum seperti rambu-rambu lalu lintas karena kurangnya pengetahuan.  Sebenarnya saat pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) calon pengendara diberikan pengenalan terhadap beragam aturan dan rambu-rambu yang sering terlihat di jalan. Tetapi, berhubung niat pengendara cuma mau ngedapetin SIM, yah setelah SIM didapat, pada lupa dah sama aturan yang baru aja diajarin. Bagi pihak yang berwenang sendiri, mereka kesulitan mencari cara sosialisasi terbaik kepada para pengendara. Yah ujung-ujungnya mesti pake cara represif, tilang dan tahan.

Hal lain yang mungkin juga berpengaruh adalah kondisi psikis pengendara itu sendiri. Klo diperhatikan, rasio pengendara di kalangan remaja cukup tinggi. Pengendara sepeda motor khususnya, mudah sekali menemui pengendara “di bawah umur” seperti anak sekolah menengah pertama yang sebenarnya belum bisa mendapatkan SIM. Fiuhhh… fiuhh….  just in Indonesia. Nah lo! Klo sudah begini, ya tambah kacau perlalulintasan di Indonesia. Namanya juga masih ababil, klo punya motor serasa jadi pembalap profesional. Kebut-kebutan gak jelas di jalan, heuh… heuh…..

Yang dewasa juga gak kalah bermasalah psikisnya. Berhubung hidup dalam tekanan untuk terus berkompetisi, maka bisa dipastikan bagaimana pola perilakunya, pentingin diri sendiri hiraukan orang lain. Dalam berkendara perilaku ini juga ikutan terbawa, parkir sembarangan gak peduli kondisi jalan yang sempit, terobos lampu merah biar cepat sampai tujuan, sembarangan ngambil lajur roda dua (yang penting kosong). Haduh…. pegimane ceritanya neh.

Apa perlu diadain psikotes buat calon pengendara dalam proses pembuatan SIM? Kayaknya perlu meskipun ribet, daripada jalanan dipenuhi orang-orang yang psikis dan mentalnya gak bener. Tapi, tuh ide gak mungkin dilaksanakan, yah, namanya juga lingkaran setan. Tambah prosedur sama dengan tambah dana sama dengan tambah ribet sama dengan calon pengendara protes karena persyaratannya bikin susah.

Yah, semua kembali pada kita semua, biar pada perbaiki perilaku masing-masing di jalan raya. Biar gak ada lagi adegan tonjok-tonjok gara-gara bersenggolan sepeda motor, gak ada lagi istilah keserempet, tabrak lari, ato tabrak masal.

Tinggalkan Balasan