Kau yang ada di sana

Hai…

Kau yang ada di sana…

Apa benar aku sebelumnya pernah mengucapkan kata itu? Sepertinya tidak. Mungkin demikian.

Mungkin aku lebih sering mengucapkan salam. Bukan, aku mungkin lebih sering melihat ke arahmu, untuk kemudian berharap kau segera memanggil ku. Tiap kali seperti itu.

Entah berapa lama kita tak saling sapa?

Entah berapa lama kita tak lagi bertatap muka?

Aku mungkin sudah lupa, dan kau, mungkin masih mengingatnya. Dengan jelas. Setidaknya seperti itu yang ku ketahui dari dirimu.

Mungkin sudah 2 tahun yang lalu. Kalaupun salah, aku cuma bisa minta maaf, otakku tak mampu menyimpan beberapa informasi sekian lama.

Anggap saja selama itu…

Kau masih ingat?

Kau masih ingat saat terakhir itu?

Untuk hal satu ini, jujur aku masih mengingatnya, meski berusaha untuk melupakan. Aku ingat, rasa bersalahku, dan mungkin saja kebencianmu terhadapku. Aku ingat kata terakhir darimu.

“Aku jalan dulu”

Aku mungkin sedikit lumpuh setelah itu. Lumpuh secara psikologi. Lumpuh dalam kata. Lumpuh dalam hati. Aku akhirnya mengalami fase yang menyedihkan saat itu. Fase patah hati dan sedikit patah semangat.

Aku manusia. Memiliki nafsu, memiliki rasa dan tentunya memiliki kesedihan. Tak berbeda layaknya orang lain.

Aku manusia.

Sudahlah, aku tak ingin mengungkit tentang masa lalu. Entah kenapa tiba-tiba aku menulis ini. Mungkin karena rasa bersalah dan mungkin, karena rasa rindu.

Hai…

Kau yang ada di sana…

Bagaimana dirimu? Semoga masih tetap diselimuti senyum bahagia itu. Kalau pun senyum itu mulai pudar, pertahankanlah. Kau selalu bisa tersenyum dengan indah. Memikirkan hal-hal indah untuk mengurangi sedikit penat pikiranmu.

Apa kau masih suka membaca berbagai hal? Apa kau masih mu membaca tulisan-tulisan ku? Aku mungkin sedikit mengendur. Tak lagi banyak menulis seperti dulu. Aku masih belum bisa menghasilkan karya yang layak untukmu.

Bagaimana keadaan keluargamu? Bapak, ibu dan adikmu yang cemerlang itu. Aku juga rindu dengan mereka. Duduk di kursi tamu itu, berbincang apapun walau hanya sejenak. Di tempat itu aku merasakan seperti apa rasanya berkumpul bersama keluarga.

Bagaimana keadaan tempat kerjamu? Apa kau masih kerepotan di sana? Semoga saja tidak. Aku yakin sekarang kau memiliki temang yang dapat diandalkan. Teman yang mungkin akan membuatmu merasakan bahagia, sedih dan hal lainnya.

Hai…

Kau yang di sana…

Maaf aku menulis hal bodoh seperti ini. Mungkin aku kerasukan, kerasukan rindu. Mungkin aku ketakutan, ketakutan rasa bersalah. Dan mungkin marah, marah atas kelemahan hatiku.

Kita mungkin berjalan ke arah yang berbeda. Tetapi, sesekali aku ingin menengok ke belakang. Melihat apakah langkahmu baik-baik saja. Aku hanya ingin melihat kau tetap melangkah dengan senyuman.

Maaf atas kecerobohanku..

Maaf atas kebodohanku..

Maaf atas egoku…

Maaf atas kelemahan hatiku…

6 Comments

  1. wah… wah…. ada yg nostalgia…
    buku yg kemaren dulu pinjem masih ada di gw ini…
    gimana balikinnya yak?

Tinggalkan Balasan