Flash Fiction : Jendela

“Sudah, berhenti seperti itu. Dasar gila!”

Dia tak menjawab.

“Kau hanya menyia-nyiakan waktu.”

Matanya masih mengintip di balik jendela.

“Apa kau dengar aku?”

Dia masih diam.

“Bruk!!!”

Tubuhnya tersandar ke dinding.

“Kau tak perlu memukulku. Tidak merubah apapun.”

“Itu pantas. Siapa tahu penyakit gilamu bisa hilang.”

“Aku tetap akan begini. Sampai saat itu tiba.”

“Kau memang sudah gila!”

“Memang, mungkin kau benar.”

“Dia tak akan pernah lewat jalan itu lagi. Tidak akan pernah!”

Matanya tetap tak berpindah.

“Apa kau tak mendengarku?”

“Ia pasti akan melewati jalan itu. Entah kapan. Tapi, aku meyakininya.”

“Itu tak akan pernah terjadi!”

Ia ditinggalkan sendiri.

Tinggalkan Balasan