DnR: Dokter Gigi

Hedeh, beta sudah terlalu lama biarin postingan beta, DnR terbengkalai. Yah, berhubung kadang-kadang otak beta stuck klo mikirin tema cerita yang bergenre komedi “normal”. Karena udah terlalu lama DnR vakum, maka tokoh-tokoh di DnR udah mengalami time skip yang terlalu jauh. Kalau pada postingan pertama masih berstatus pelajar, sekarang sudah jadi mahasiswa, dan entah kenapa tinggal dalam satu rumah yang dikontrak secara patungan sebagai markas bersama selama menyandang gelar mahasiswa.

Pada postigan kali ini juga beta merubah “status” cerita dari DnR. Kalau sebelumnya berupa Non-Fiksi yang dikembangkan (padahal sudah layak dibilang fiksi) menjadi full fiksi. Jadi DnR kali ini dan seterus ceritanya bakal menyesuaikan kondisi kejiwaan beta saat menulis ceritanya, hahaha. Yah nikmati aja DnR episode 2 : Dokter Gigi.

Halo, jumpa lagi sama gue, beta, B-E-T-A. Wah ternyata sudah lama gak muncul di blog ini, tolong salahkan pemilik blog ini yang males nerusin tulisan tentang cerita gue ini. Gue punya kabar gembira, gue dan 4 orang teman gue akhirnya lulus sekolah dan sekarang jadi mahasiswa, gila gue sudah jadi mahasiswa (lompat-lompat kodok). Sekarang gue tinggal di rumah kontrakkan bersama dengan 4 teman gue, berhubung kami satu kampus meski beda-beda jurusan. Gue mencoba mencapai cita-cita gue buat jadi staf Bank Dunia, karena gue masih penasaran gimana rasanya kerja di sana. Makanya gue milih Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi (pasang muka bangga).

Si Luki milih jurusan Seni, karena dia begitu yakin, dirinya dilahirkan untuk dunia seni, model dan akting (meski gue beneran gak yakin). Toni memilih mengambil Jurusan Hubungan Internasional, karena menurutnya punya kenalan dari berbagai negara itu keren. Firman entah kenapa memilih fakultas hukum, dia gak pernah sekalipun bilang mau ngambil bidang itu semasa sekolah. Tapi menurut gue, satu-satunya alasan Firman mengambil bidang itu adalah karena selama ini dia sudah diperlakukan tidak adil oleh kami berempat. Kami sering menghabiskan cemilan dan makanan di rumahnya, mungkin saja ia sedang mencari pasal yang bisa menjebloskan kami ke penjara denga perkara tersebut, bahaya. Terakhir, Arif, ia memilih masuk fakultas MIPA Jurusan Matematika, alasan yang terlintas di kepala gue cuma satu, cewek-cewek yang ada di jurusan tersebut.

Yah, kembali lagi ke masalah rumah yang sedang kami kontrak ini. Rumah ini sebenarnya tak terlalu besar, tapi cukup untuk jadi markas bersama. Gue dan yang lain sepakat gak milih kost-an dengan alasan privasi (alasan terselubung : gak bisa malas-malasan karena selalu ada ibu kost yang datang mengecek). Kamar cuma ada 4, dan dua orang yang beruntung harus tidur satu kamar adalah Firman dan Arif (lagi-lagi Firman mendapat ketidakadilan).

Lupakan soal kampus dan rumah kontrakkan kami, sekarang gue punya masalah. Masalah yang menyangkut kehidupan gue beberapa saat ke depan. Cemilan gue tiba-tiba raib dari kamar gue, padahal gue baru beli kemaren. Gue curiga dengan salah satu penghuni rumah ini, karena gue sudah tahu gimana mereka luar-dalam. Gue nyoba nyari-nyari cemilan gue di ruang tengah, siapa tahu cemilan gue jadi teman nonton bola tadi malam oleh orang-orang ini.

“Ngapain lu, Bet?” Arif keluar dari kamarnya, sambil memegangi pipi kanan.

“Nyari cemilan gue, hilang, lu yang makan ya?” tuduh gue tanpa perasaan.

“Gila lu nuduh gue, temen lu sendiri, Bet.”

Gue memandang dalam ke arah wajah Arif (kalau kalian berpikiran gue naksir Arif, kalian salah besar), gue penasaran, kenapa dari tadi Arif menutupi pipi kanannya. “Kenapa pipi kanan lu, Rif?”

“Gak tau nih, tiba-tiba sakit gigi dari tadi pagi.

“Tuh, lu makan cemilan gue kan? Makanya kualat.” Gue masih mencurigai Arif.

Arif menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lu masih nuduh gue ya. Susah punya teman tukang tuduh,” katanya.

“Gue gak nuduh, gue cuma bilang lu kan yang makan cemilan gue, itu aja.”

“Itu malah lebih parah dari nuduh, dodol.”

“Gak ke dokter gigi aja. Dari pada tambah bengkak, kayak habis dipukulin orang sekampung gara-gara maling ayam entar.”

“Ah, males gue ke dokter gigi. Gak ada jaminan sembuh juga,” tolak Arif sambil duduk di kursi ruang tengah. Tangannya memencet remot tipi.

“Lu males apa takut?”

“Dua-duanya.”

Gue ikut-ikutan duduk di kursi. “Lu mau denger cerita gue soal tetangga gue pas waktu kecil gak?”

“Ngapain lu ceritain tetangga lu? Lu naksir sama dia?”

“Bukan gitu, dia dulu sakit gigi parah, tapi tiba-tiba berenti”

“Wah, pakai obat apaan tu?” Arif mulai semangat mencari tahu cara mengatasi sakit giginya.

“Gak pake obat apa-apa,” jawab gue.

“Masa? Gak percaya gue.”

“Orangnya modar, jadi kan sudah gak sakit gigi lagi.”

“Wa… main-main ni anak, pakai nakut-nakutin gue lagi.”

“Haha,” gue ketawa lepas, sejenak mencoba melupakan kejengkelan gua atas kehilangan cemilan tercinta.

Luki dan Firman datang dari kampus. Firman nampak membawa banyak buku-buku tebal di tangannya.

“Firman, lu mau kuliah atau jualan buku? Banyak banget bawanya,” tanya gue.

“Habis jualan di perempatan, Bet,” ejek Luki.

“Resiko ngambil hukum, Bet. Bukunya tebal-tebal gila, otak gue entar sanggup gak ya?” jawab Firman sambil meletakkan bukunya di meja.

“Lu nya juga, ngapain ngambil hukum.”

“Gue punya alasan sendiri.” Jawaban dari Firman semakin menguatkan dugaan gue kalau Firman sebenarnya mengambil bidang hukum buat membalas semua kejahatan kami padanya.

“Arif kenapa?” tanya Firman lagi.

“Sakit gigi katanya,” jawabku singkat.

“Bisa sakit juga ternyata,” komentar Luki.

“Habis makan kacang sama cemilan tadi malam tuh,” kata Firman.

Gue langsung mandang ke arah Arif, nampak tangannya memberikan kode agar Firman diam.

“Tuh kan, lu yang makan cemilan gue. Kualat beneran lu,” timpal gue. Doa gue kayaknya terkabul, yang makan cemilan gue sakit gigi.

Arif gak menjawab, hanya tertawa kecil (dan licik).

“Lu gak ke dokter gigi, Rif?” Firman kembali bertanya.

“Lu telat, Firman, udah gue tanyain tadi. Arif takut sama dokter gitu.” Gue mencoba menjelaskan kekurangan Arif.

“Ha? Takut dokter? Suer! Kayak anak kecil,” Luki kembali mengejek Arif. Luki memang sudah gue kenal paling senang ngejek orang yang tertimpa sial atau hal lainnya. Karena menurutnya, ejekan akan mampu membangkitkan gairah dan semangat orang yang di ejek. Luki memang benar, menurut gue, Arif saat ini sedang bergairah dan bersemangat untuk menjitak kepalanya.

“Lu mau biarin tuh sakit gigi sampai tua?” tanya gue.

Arif cuma geleng-geleng.

“Kenapa sih pakai takut dokter segala?” Firman penasaran.

“Gue trauma. Waktu kecil, gue pernah ke dokter. Kata mama gue, dokter itu baik. Pas ke kliniknya, yang gue temukan dokter dengan kumis lebat dan muka sangar. Gue sampat ragu, itu dokter atau preman pasar. Terus dia bilang ‘disuntik gak sakit kok, kayak digigit semut’. Meski gue masih anak-anak, otak gue gak bisa ditipu, jarum suntik gede gitu kok dibilang kayak gigitan semut, semut gajah baru bener,” Arif menceritakan masa lalunya tentang dokter. Gue bingung mau memberi mimik muka seperti apa saat mendengar cerita itu. Muka sedih, atau muka bingung dengan mulut menganga.

“Gue punya sedikit saran,” kata Luki. Semoga saja beneran saran. “Gue denger dari temen gue di kampus, ada klinik dokter gigi yang baru buka. Dokternya cewek lagi,” sambungnya.

Mendengar kata “cewek” Arif langsung bersemangat. Trauma “dokter” yang dialaminya seolah-olah hilang. “Dimana?” tanyanya penuh semangat.

Luki mendekat ke arah Arif. “Lu ke arah kampus aja. Terus sampai perempatan, entar belok kanan, entar di sana ada kok papan namanya. Gue jamin, dokter giginya cewek.”

“Cakep?”

“Lu liat aja sendiri.” Luki lalu berjalan menuju kamarnya.

Arif berdiri, berjalan cepat menuju kamarnya.

“Lu mau kemana, Rif?” tanya gue.

“Ke dokter gigi.”

“Katanya trauma.”

“Gue udah lupa,” jawab Arif. Sudah bisa ditebak, Arif bakal lupa segalanya kalau sudah menyangkut kata “cewek”.

Entah dengan kecepatan berapa kilometer perjam Arif mengganti baju, yang jelas begitu cepat. Ia langsung mengambil kunci motor yang tergantung di dinding dan kemudian berlalu meninggalkanku dan Firman.

“Arif aneh,” kataku pada Firman.

“Sudah jelas,” balas Firman.

Gue yang lain selain Toni yang gak muncul-muncul (mungkin disekap dosen di kampus) memutuskan nonton bareng film action bajakan yang baru di beli Luki. Layaknya di bioskop, kami bertiga menonton sambil memakan cemilan masing-masing. Firman makan buah karena menurutnya itu makanan paling sehat. Luki makan keripik singkong yang dibeli sepulang kuliah. Sedangkan gue, makan hati, masih jengkel cemilan lenyap disikat Arif.

Saat film yang kami tonton akan selesai, pintu rumah terbuka dan Arif masuk dengan muka kesal.

“Lu bohongin gue ya, Luk,” cerocos Arif sebelum mencapai kursi kami.

“Bohong apaan?” Luki psang muka polos.

“Soal dokter giginya.”

“Dokter giginya berubah wujud?”

“Enggak!”

“Terus, beneran cewek kan?”

“Iya, cewek. Bener-bener cewek.”

“Terus gue bohong paan?” tanya Luki heran. Sebenarnya bukan cuma Luki, Firman dan Gue sendiri juga bingung.

“Dokternya emang cewek, tapi sudah tua. Lu bilang cakep.” Muka Arif merah.

“Siapa yang bilang cakep. Gue bilangkan lihat sendiri, gue salah kok,” Luki pasang muka gak bersalah.

“Mana dokternya tukang marah, trauma gue!”

“Trauma lagi, entar lupa lagi gak?” tanya gue. Perntanyaan yang mungkin bakal membuat Arif tambah meledak.

Arif langsung masuk kamarnya. Tangan kanannya nampak memegangi pipi. Gue bisa bayangin, trauma dokternya Arif langsung kambuh pas lihat dokter giginya.

Gue melihat muka Luki. Ia nampak tertawa.

“Parah lu, Luk. Udah ngejebak Arif, pakai ketawa lagi.” Kata gue.

“Anggap aja hiburan hari ini, haha,” Luki kembali tertawa.

Gue diem sebentar, kemudian ikut tertawa, “haha, haha.”

Firman memandangi kami, tak lama kemudian menyusul tertawa, “ haha, haha.”

Tinggalkan Balasan