Berlari bersama mimpi Bagian 9

Aufa Nadhifah, nama yang begitu indah bagi seorang anak jalanan. Di saat kebanyakan anak-anak jalanan lainnya bernama singkat, Ara, Fatma, Atul dan yang sedikit berbau kota, Weni. Penampilannya juga jauh berbeda dibanding kami, bersih dan rapi. Bandingkan dengan keadaan kami yang kumal, lusuh dan berbau peluh. Hampir tak ada yang mengenali dirinya, tak satu kali pun pernah muncul di jalanan. Kami hanya bertemu dengannya saat belajar di sekolah, tidak di saat lain.

Setiap hari ia datang lebih dulu ke sekolah ini. Duduk di urutan kedua meja bagian kanan belakang kelas, sambil membaca buku-buku yang tebal. Ia hanya bicara seperlunya saat di kelas, benar-benar seperlunya. Ia begitu pendiam, hampir menyamai diamnya Agel. Mungkin ia berada di urutan kedua setelah Agel. Dua orang paling pendiam di bilik kelas ini.

Dia memiliki tingkat intelegensia yang jauh berbeda dengan kami. Di saat kami baru mendengar nama peradaban Mesopotamia, ia sudah bisa menjelaskan secara detail keseluruhannya. Di saat kami harus kelimpungan dihadapkan dengan soal persamaan linier dan matriks, ia dengan begitu mudahnya mengerjakan dengan eliminasi Gauss-Jordan. Begitulah dirinya, lebih di atas kami. Hanya dalam kisaran kegiatan belajarlah kami mengenalnya, tidak di waktu lain.

Satu-satunya orang yang mungkin mengenalnya lebih dalam adalah Naya. Naya adalah, anak seorang pengupas kulit bawang di pasar induk. Naya-lah yang setahu kami sering berinteraksi dengan Aufa, anak misterius yang menyita rasa ingin tahu kami. Melalui berbagai cara dan trik licik ala penjual minyak wangi palsu kami menghasut Naya agar menceritakan tentang Aufa. Satu kali, dua kali, tiga kali, Ah! Selalu saja gagal. Sepertinya kami tak memiliki bakat untuk menjadi seorang Marketing Officer atau bahasa mudahnya, Sales. Tak satupun teknik yang mempan membuat Naya buka suara. Sampai akhirnya tanpa diduga-duga, Naya memberitahu saat kami benar-benar putus asa, hopeless.

Dari penuturan Naya, baru kami tahu bagaimana kondisi Aufa sesungguhnya. Aufa kini tinggal di panti asuhan milik Pak Ramdani yang berjarak tak jauh dari sekolah ini. Pantas saja kami tak pernah melihatnya berada di jalanan, beradu nasib dengan kendaraan yang melaju tak beraturan. Pantas saja ia terlihat lebih bersih dan rapi. Pantas saja.

Aufa sebenarnya anak orang kaya, hartanya melimpah-limpah, tak habis tujuh turunan. Ia anak konglomerat yang sudah sering pergi keberbagai tempat yang asing bagi kami. Ia begitu sering menyeberang ke negara tetangga, ia pernah di bawa ke Hongkong hanya untuk melihat tikus bertelinga lebar yang sering muncul di televisi. Ah! Sebuah mimpi kosong bagi kami semua.

Tapi kenapa ia masuk di sekolah ini, bukankah hartanya berlimpah-limpah. Apa ia dan orang tuanya terlalu kikir untuk menggunakan harta? Aku sempat berpikir demikian. TapiNaya berkata lain. Aufa sekolah di sini karena keluarganya hancur berantakan, porak-poranda. Orang tuanya lebih cemas pada harta dibanding anaknya sendiri. Puluhan kali bersidang di pengadilan demi menggemukkan rekening sendiri. Membiiarkan sang anak terlantar demi secarik kertas tak berarti, sadis.

Sadis tak hanya berarti membunuh dan menyiksa fisik. Lebih teramat sadis jika mengorbankan anak sendiri dengan sebongkah harta tak bertuan. Ah! Andai aku berada dalam keadaan demikian, mungkin aku sudah loncat dari menara-menara telekomunikasi atau jembatan. Ah! Jika itu aku, mungkin aku sudah berguling-guling di tanah. Meracau tak karuan dan menggigit-gigit bibir sendiri. Gila.

Seperti itukah mental seorang yang hartanya berlimpah-limpah, sedemikian rapuh. Pantas saja banyak orang berjas dan berdasi di suaka gila, rumah sakit jiwa. Berkurang niatku untuk menjadi orang yang kaya jika akhirnya demikian. Lebih baik tetap sederhana dengan mental dan rasa nyaman.

Aufa merasa tak diperhatikan lagi di rumah hingga akhirnya ia melarikan diri. Awalnya ia bermaksud tinggal di rumah neneknya di kota tetangga. Namun, rupanya masih ada dendam yang membekas di hati sang nenek pada ibunya. Ibunya yang sudah dianggap anak durhaka oleh neneknya sendiri karena sifat ambisius dan serakahnya demi mengejar harta. Aufa menjadi korban tak langsung dari pertengkaran mereka.

Ia sempat hidup terkatung-katung. Hidup bergantung dari rasa iba orang-orang yang mau memberinya makan. Hidup dari satu emperan toko ke emperan toko lainnya. Padaakhirnya ia tertidur di depan rumah Pak Ramdani. Aufa lah yang menjadi alasan pertama Pak Ramdani mendirikan sebuah panti asuhan. Ia juga yang menjadi penghuni pertama panti asuhan yang dulunya merupakan rumah Pak Ramdani sendiri.

Aku memperhatikan raut muka Domain ketika Naya menceritakan hal itu. Raut muka campur aduk, antara sedih, bangga dan entah apa lagi. Sungguh aneh melihat raut muka itu dari wajah Domain. Domain yang selama ini ku kenal selalu tenang dan hampir dingin menyikapi keadaan, berubah waktu itu. Memang, ia manusia biasa bukan robot yang tak memiliki perasaan. Apa mungkin ia merasakan hal yang sama seperti apa yang dialami Aufa. Ah! Mungkin tidak.

“Tapi ingat!” Naya membangunkan kami dari dunia lamunan. “Jangan pernah mengungkit tentang masalah itu dihadapannya. Mungkin saja dia masih trauma.”

Aku dan Domain saling pandang. Kami berdua secara spontan mengangguk-anggukkan kepala.

Naya meninggalkan kami berdua. Sebelum berlalu ia tersenyum, entah apa arti senyumnya itu. Aku dan Domain diam, tak berbicara sepatah katapun. Aku sedikit terhenyak, bukankah selama ini yang ku kejar adalah harta yang demikian. “Uhh…,” aku menghembus napas panjang.

“Jadi begitu.” Domain mengucapkan kata-kata yang sulit ku mengerti maksudnya.

“Begitu apanya, Mai?”

“Tak apa. Cuma ingin bilang demikian.” Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding bilik kelas. Matanya menerawang ke langit-langit. Ia kembali pada tingkah normalnya.

Aku benar-benar kurang memahami tingkah Domain. Contoh orang misterius lainnya di bilik kelas ini. Aku ikut menengadah ke langit-langit, memperhatikan putaran pelan baling-baling kipas angin. Embusan semilir angin menenangkan sedikit otot dan sarafku, di tengah keriuhan para prajurit jalanan.

Jadwal pelajaran telah usai sore itu. Beberapa prajurit jalanan meninggal bilik kelas dan beranjak pulang. Naya dan Aufa masih duduk di kelas, menyelesaikan salinan tulisan di papan tulis. Domain dan Agel tampak menepi ke pojok bilik kelas. Entah apa yang mereka kerjakan. Aku sendiri hanya duduk diam, menunggu matahari menghilang di horizon sebelah barat.

Aku menghitung-hitung semut yang melintas di dekat meja, tak berguna, membuang waktu, tapi itulah tujuanku. Semut adalah hewan yang spesial bagiku, semut adalah hewan yang selalu mengingatkan ku untuk hidup saling membantu. Apalagi dengan kehidupan keras seperti ini.

Domain dan Agel tampak serius membicarakan sesuatu, entah apa itu. Aku sama sekali tak memiliki niat untuk mengetahuinya. Di benakku sudah terpatri label aneh pada setiap hal yang mungkin sedang bicarakan. Mungkin saja mereka sedang merencanakan sesuatu, jangan-jangan, Ah! Pikiranku mulai diracuni perilaku aneh mereka.Dua orang anak yang tingkah dan jalan pikirnya tak pernah ku pahami, unik dan aneh.

Awan menipis di langit, menampil rona biru yang mulai menguning di barat. Sekumpulan burung terbang beriringan menuju peraduan. Ah! Apa aku juga harus demikian, pulang saja ke rumah untuk melepaskan penat yang menggerogoti  tulang-tulang.

Tiba-tiba Agel berlari keluar bilik. Tak lama, ia kembali membawa beberapa tangkai bunga dari halaman sekolah. Aku heran dengan apa yang dilakukan  Agel. Untuk apa bunga Daffodil yang ditanam susah payah oleh Bang Sami di halaman itu. Siap-siap saja, Bang Sami pasti akan marah-marah melihat bunga-bunga yang ditanamnya raib ditangan para pengacau ini.

Bunga itu diserahkannya pada Domain. Domain telah merapikan pakaiannya, serapi mungkin meskipun tetap saja terlihat kumal. Bunga itu digenggamnya di tangan kanan. Tangan kirinya masih merapikan kancing baju yang salah. Wajahnya tampak dibuat-buat segagah mungkin. Pasti ini salah satu tingkah aneh Domain lagi.

“Aufa.” Domain berjalan mendekati meja Aufa. Ia menurunkan lutut kanannya, menjulurkan tangan kanannya yang memegangi bunga Daffodil. Mimik wajahnya ia paksa semenarik mungkin, tapi bagiku terlihat seperti orang memelas.

Naya dan Aufa yang duduk bersebelahan tercengang. Mungkin saja mereka bingung antara terkejut atau tertawa karena tingkah Domain.

“Terimalah ini, dan hapuskan setiap kesedihanmu bersama embusan angin.” Domain sudah seperti pujangga picisan yang sering melakukan pertunjukkan di jalan-jalan kota Amsterdam.

Aku mulai tak bisa menahan tertawa. Aku menutupi mulut agar tak mengeluarkan suara. Aufa masih saja diam, tak bereaksi dengan tingkah Domain.

“Biarkan setiap kesedihanmu mengalir bersama tetesan air hujan. Biarkan pohon-pohon tua yang telah meranggas bersemi lagi dengan tetesan air hujan. Terimalah. Terimalah Aufa, dan biarkan daun-daun itu tumbuh kembali.” Kini kedua tangannya sudah menggengam bunga. Melodramatis.

“Ha.. ha…” Aku tak lagi bisa menahan tawa. Sambil memegangi perut aku terus tertawa, tontonan lawak gratis.

Naya ikut tertawa kecil. Tingkah Domain benar-benar membuat kami seperti digelitiki. Agel yang dari tadi berdiri di belakang Domain tampak mengipas-ngipaskan karton besar ke arah Domain,seolah Domain berada di sebuah jembatan di Venesia, tertiup semilir angin yang dikipas-kipaskan Agel. Dramatis sekaligus mengocok perut.

“Aufa,mengapa kau tak mau menerimanya?Apakah dahan pohon itu telah mati, tak lagi bisa ditumbuhi daun-daun hijau?” Wajah Domain benar-benar tampak memelas.

Kami semua melihat ke arah Aufa yang dari tadi hanya diam tak bereaksi. Semua diam sejenak, menunggu reaksi yang dimunculkan Aufa. “Ha.. ha..” terdengar tawa kecil dari mulut Aufa. Ya! Sebuah tawa kecil yang disusul senyuman manis.

“Ha.. ha..” aku ikut tertawa disusul gelak tawa Naya. Agel dan Domain terdiam. Tak ada sepatah kata dan gerakan dari mereka. Kini kebingungan melanda diri mereka.

Domain membalikkan tubuhnya. Berjalan pelan sambil memegangi kepalanya dengan tangan kiri. Kemudian tambah cepat ketika melewati pintu bilik kelas. Aku yakin Domain malu dengan apa yang baru saja ia lakukan. Tapi berkat tingkah aneh Domain akhirnya kami melihat Aufa tertawa. Aufa yang sejak dulu misterius dan berwajah datar akhirnya bisa melepaskan tawa kecil.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan