Berlari bersama mimpi Bagian 6

Pelajaran hari ini sudah selesai. Kami para prajurit jalanan bersiap meninggalkan bilik kelas ini. Menuju persembunyian masing-masing, tak ada kelayapan lagi karena malam sudah menanti di depan pintu langit. Jika nekat kelayapan untuk mencari tambahan receh di jalanan, bersiap saja. Segerombolan serdadu berseragam kompak pasti akan menghampiri, mengejar dan menangkapi kami. Sudah cukup kami dikejar-kejar seperti binatang liar, ditarik, dibentak bahkan dipukul jika melawan. Tak ada belas kasih dari tindakan mereka.

Ijan, salah satu prajurit jalanan yang sekolah di tempat ini memiliki rekor tersendiri. Ia yang paling sering keluar masuk gedung tahanan para penduduk jalanan. Paling sering berjejal di mobil berwarna kelam milik para serdadu berseragam. Ya, jika ingin tahu seperti apa kondisi gedung tahanan bagi orang seperti kami, cukup tanya dirinya. Ia pasti akan menceritakan semuanya, bahkan yang tidak perlu diceritakan. Mulutnya tak mudah direm, sering blong tak terhentikan. Jadilah kami sering lari bergantian jika ia sudah bercerita tak tentu arah, tak tentu waktu.

Aku dan domain selesai shalat magrib di mushalla samping sekolah. Agak aneh, ada yang kurang hari ini. Agel tak bersekolah hari ini, padahal siang tadi dia sepertinya sudah begitu niat untuk masuk sekolah. Tapi entah kenapa tak tampak batang badannya yang besar itu di sudut kelas.

“Agel dimana? Apa kau melihatnya saat pergi ke sini?,” tanyaku saat melangkahkan kaki meninggalkan mushalla.

“Aiihh! Aku tak melihatnya barang sedikit. Mungkin saja dia sedang sembunyi dari preman-preman error itu di balik tumpukkan atap seng,” jawab Domain, jelas-jelas terlalu santai.

Aku sedikit ternganga. Jawabannya tak bisa membuatku tenang, tambah semrawut, acak-acakan seperti labirin di taman kastil-kastil kerjaan eropa kuno. “Apa maksudmu? Jika seperti itu, malah gawat.”

“Itu hal biasa. Ia sudah teramat lihai lari dari para penganut errorisme itu. Kecuali ia sudah kehabisan akal, tak punya akal sedikitpun untuk mengelak.”

“Lebih baik kita lihat keadaannya. Tak berhati jika kita abaikan nasibnya seperti itu. Tak bertimbang rasa.” Aku mencoba bersikap patriot. Seperti  Tom Cruise yang siap beraksi, Mission Impossible.

“Baiklah. Tapi aku ikut denganmu. tak mungkin aku naik angkot. Mereka sudah tahu aku sering tidak bayar. Ha.. ha..” Domain tersenyum licik. Memang ia sering menumpang gratis angkot yang melintasi daerah ini.

Aku cuma bisa mengiyakan. Aku lah yang mencetuskan ide ini. Mau tak mau, aku harus menerima setiap hal yang muncul karenanya. Salah satunya, membonceng Domain. Ya, membonceng Domain, manusia paling ekspresionis.

Aku mengayuh sepeda sejadinya. Domain berada di belakang, bertumpu pada baut sepeda yang kepanjangan. Beberapa kali ia menggerakkan tubuhnya, mencoba merusak keseimbanganku. Cari masalah, itulah lebih tepatnya arti kata ekspresionis yang melekat pada Domain. Hiperaktif ratusan kuadrat. Tak bisa kubayangkan bagaimana kedua orang tuanya merawatnya dulu. Ah! Terlalu muluk aku membayangkannya, aku masih terlalu muda memikirkan hal itu.

Setelah melewati kumpulan toko-toko berdempet tanpa ruang napas. Pemandangan kini berganti jadi kumpulan rumah, dari sederhana sampai akhirnya kumuh. Aku sedikit lupa berapa kali sudah harus berganti arah karena Domain yang tak terlalu memperhatikan jalan.

“Mai, perhatikan jalannya. Aku lelah harus berputar arah terus.” Aku mulai sedikit kesal.

Domain cuma cengengesan, tak sedikitpun memahami derita telapak kaki mengayuh sepeda melalui jalan yang berbatu dan tak rata.

“Tenang saja lah,” katanya dengan iringan senyum tanpa dosa. Ia malah tampak sengaja menggoyangkan badannya. Menambah beban ku mengayuh sepeda. Semakin bersemangat menambah siksaan. Debu yang begitu bebas keluar masuk paru-paru, jalan berbatu, dan kini Domain dengan bergitu liarnya menggoyang-goyangkan sepeda.

“Aiihh! Belok kanan.” Lagi-lagi Domain membuatku harus berputar arah.

Tak beberapa lama, setelah berbelok arah ke kanan. Ia menyuruhku berhenti.

“Sepedanya ditinggal di sini saja. Kita jalan kaki. Tinggal sedikit, jalannya sempit.” Ia memberi komando. Dialah yang lebih tahu rumah Agel. Aku hanya bisa menurut. “Bang! Titip sepeda!” teriaknya pada seorang laki-laki agak tua yang duduk di samping meja penjual pecel.

Tak sempat laki-laki itu menjawab, Domain sudah berlalu cepat ke dalam sebuah lorong sempit. A slapdashman. Aku hanya bisa mengikutinya dari belakang, calon anak buah tulen.

Rumah-rumah di daerah ini tak kalah kacau balau. Kebanyakan hanya bedeng-bedeng yang sengaja disekat-sekat sang pemilik untuk disewakan seadanya. Terlihat begitu acak-acakan tak beraturan. Jika dibandingkan dengan rumah-rumah mewah para pejabat, tak lebih dari kandang kambing yang sebulan tak dirawat.

Domain berhenti di sebuah rumah tanpa jendela. Di bagian depan hanya pintu dan dinding polos dari kayu, tanpa estetika. Pintu rumah itu sedikit terbuka. Sinaran cahaya matahari menembus di antaranya. Domain berdiri tepat di depan pintu. Wajahnya yang dari tadi cengengesan kini berubah sedikit datar. Matanya mengintip, meniti pandang dari celah pintu yang terbuka. Aku heran melihat tingkahnya, ia kini terlihat seperti seekor maling ayam yang mencari kesempatan mengambil ayam secepat kilat.

“Mai, Domai. Ada apa?.” Aku benar-benar keheranan.

Ia tak menjawab. Ia masih seperti mengintip-intip.

“Mai….” Kini aku mulai mengeraskan panggilanku. Layaknya penjual barang loak di pasar malam.

Domain lagi-lagi tak mendengarkanku. Mungkinkah tiba-tiba ia terkena gangguan pendengaran gara-gara bertingkah usil saat aku bonceng di sepeda. Hebat! Doaku terbukti manjur. Mungkin ini peluang usaha baruku, menjadi dukun santet kelas bulu. Ya, dukun santet kelas bulu, hanya melayani santet ringan. Ha.. ha.. ide terbodoh yang pernah terlintas di pikiranku.

Domain membuka pintu rumah itu. Melangkah masuk. “Gel.. Agel…” Ia mencoba memanggil penghuni rumah yang tak lain Agel.

Aku mengikuti dibelakang. Seperti sepasang maling kambuhan kami menebar pandangan ke segala arah. Mencari-cari penghuni rumah yang tak kelihatan batang hidungnya. Di dalam tempat itu hanya ada kasur kapuk yang bentuknya tak beraturan.

“Gel… Agel…” Domain kembali memanggil-manggil nama Domain. Tak ada jawaban.

Kepala ku menoleh kiri kanan, siapa tahu Agel sedang bersembunyi. Mengira kami preman error yang sering dikatakan Domain. Domain tampak putus asa. Tangannya mengaduk-aduk rambut keriting seperti orang papua kebanyakan. Mataku tertuju pada bilik yang berada di ujung kanan rumah itu. Kaki melangkah pelan ke ruangan itu. Siapa tahu Agel berada di sana.

Begitu langkahku melewati bilik pemisah ruangan itu, “Masya Allah….!!.” Aku terkejut, aku langsung lunglai. Tenaga ku hilang seketika, tak tersisa. Aku benar-benar mati rasa. Mataku seperti mau keluar dari tempatnya. Bulat dan pupilnya membesar.

Di hadapanku. Teronggok tubuh besar Agel di lantai. Posisinya tiarap dengan tangan dan kaki seperti orang jatuh dari lantai lima belas gedung-gedung di luar sana. Mulutnya ternganga. Lampu temaram yang menyinari ruangan itu memperlihatkan bagaimana keadaannya. Lututku gemetar, getaran yang akhirnya mengalir sampai ke seluruh tubuh. Tak percaya diriku pada apa yang ku lihat. Seingatku, mataku ini masih normal. Lewat tes mata gratis di sekolah, aku mendapat laporan yang bagus. Mataku bekerja dengan sangat normal.

Domain yang mendengar teriakan ku lantas mendekat. Ia tak melihat pada onggokan tubuh besar Agel. Ia lebih refleks melihatku yang tersandar di dinding penyekat bilik. “Ada apa Dan???.” Ia keheranan.

“Masya Allah… Masya Allah… Laa ilaha ilallah…” mulut ku tak henti menyebut nama Allah, gemetar.

Domain reflek melihat ke arah ujung bilik. Matanya kini melotot, persis seperti diriku. Tubuhnya seketika kaku. Detak jantungnya tambah cepat. Mulutnya gemetaran, ingin mengucapkan sesuatu. “Agel… Agel….,” katanya seolah tak percaya.

“Agel Dan…. Agel….” Matanya nanar. Tak lama butiran air mengalir dari matanya.

Aku tak menanggapi apa yang dikatakan Domain. Disconnect, keadaan itulah yang kini mendera diriku. Otakku beku, tak lagi cair untuk berpikir dan menerima rangsangan dari alat pengindera. Tubuh ku menggigil, peluh dingin mulai membanjir.

Di tengah kondisi disconnect  parah kami berdua. Tiba-tiba tubuh Agel bergerak, benar-benar bergerak. Kami berdua meracau tak jelas. Akal ku mulai mentranslasikan kejadian ganjil itu. Nyala lampu temaram itu memperkeruh keadaan. Apakah ini yang dimaksud dengan istilah H-A-N-T-U. Kami berdua tertegun melihat kejadian mengerikan yang ada di hadapan kami. Tak ku sangka aku harus mengalami kejadian ini. Kenapa bukan orang yang jelas-jelas berbuat jahat padanya saja, atau pada orang-orang berjas yang mengakibatkan dirinya harus hidup seperti ini.

Kini tubuh Agel berdiri tegap. Ia kini memandang tajam pada kami berdua, sungguh! benar-benar tajam. Tubuh kami berdua bergidik. Ia mengangkat tangan kanannya. Aku mulai berpikir ia akan mencekik leher ku seperti film-film yang pernah ku tonton di televisi umum pasar. Aku mulai menutup mata pasrah pada apapun yang akan terjadi. Satu, dua, tiga, enam Ahh!!, lama sekali ia mencekik ku. Aku memberanikan diri membuka sedikit mata ku. Perlahan, semakin jelas, ku lihat Agel menggosok-gosokkan tangan kanannya itu ke mata. Aku kebingungan, mataku melirik ke arah Domain. Wajahnya tak kalah semrawut, bingung dan rasa takut berbaur jadi satu.

“Maaf. Kalian sudah lama menunggu? Aku sepertinya ketiduran setelah makan tadi.” Agel masih menggosok-gosok matanya.

Kami terdiam, tak ada reaksi sedikitpun. Terjebak dalam fase linglung diterkam keadaan. Tubuhku tak lagi bergetar. Entahlah, apa yang sedang ku rasakan saat ini. Takut, terkejut, bingung dan merasa ganjil. Tumpah ruah di bilik-bilik otakku.

Agel kembali menatap ke arah kami. Ia benar-benar tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku dan Domain tetap saja diam, mungkin kini kami terdiam karena benar-benar shock. Bukan karena takut, tapi karena daya imajiner kami berdua yang terlalu berlebihan. Pesan yang kudapat hari ini: Jangan percaya dengan apa yang kau lihat, sentuh dulu, baru teriak.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan