Berlari bersama mimpi Bagian 5

Jam dinding berwarna putih yang tertempel di dinding bilik kelas sudah menunjukkan pukul 15.58. sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Kalau tidak salah hari ini yang mengajar adalah Bu Anis. Guru muda dari SMA tempat Pak Ramdani dulu mengajar. Bu Anis jadi salah satu guru favorit di sekolah ini. Ini karena cara mengajarnya yang membuat kami para prajurit jalanan merasa nyaman. Apalagi beliau mengajar mata pelajaran bahasa Indonesia. Sudah pasti kami akan diminta untuk membawakan drama, membaca puisi, atau mungkin bergaya seperti seorang wartawan yang sedang meliput berita. Kegiatan belajar yang mengasyikkan bagi kami, meskipun kebanyakan siswa sekolah umum lainnya tidak menyukainya. Terlalu malas, terlalu terjerat oleh hal-hal yang serba instant. Padahal cara belajar seperti ini lebih mengembangkan daya motorikdan kognitif kami.

Rasa hormat dan segan Bu Anis pada Pak Ramdani jadi alasan pertama ketika ia mengajar di tempat ini. Ia merasa begitu senang ketika mendapat ajakan Pak Ramdani untuk ikut mengajar di sekolahnya. Pak Ramdani adalah guru idolanya saat masih sekolah di tempat dimana ia mengabdi kini. Bagi Bu Anis, Pak Ramdani sudah seperti orang tuanya sendiri. Perasaan yang sama seperti kami. Pak Ramdani adalah seorang ayah bagi kami semua.

“Assalamu alaikum.” Sebuah salam menghampiri telinga kami yang sudah tak sabar menunggu pelajaran.

“Wa alaikumussalam.” Kami semua mengarahkan pandangan ke tempat masuk yang biasa kami lalui. Tampak Bu Anis yang hari itu mengenakan jilbab warna hijau daun, simetris dengan pakaian yang dikenakannya. Senyum selalu menghiasi wajahnya, sebuah kebiasaan yang sebenarnya begitu elok jika dilakukan setiap orang. Ia melangkah menuju meja guru, meletakkan barang-barang bawaannya.

“Selamat sore anak-anak.” Kata Bu Anis.

“Sore bu….” Kami semua begitu bersemangat hari ini.

“Hari ini ibu mau mengajak kalian semua jalan-jalan keliling dunia,” kata Bu Anis diiringi senyum.

Kami semua terdiam. Entah apalagi kejutan Bu Anis hari ini. Ia begitu sering membuat kejutan untuk kami. Kejutan yang jadi alasan mengapa kami selalu menunggu-nunggu kehadirannya.

“Apa ada yang mau ikut keliling dunia? Ayo…, angkat tangannya. Siapa yang mau keliling dunia?” Bu Anis mencoba mengarahkan kami.

“Keliling dunianya naik apa bu?,” tanya seorang anak laki-laki yang sering datang ke sekolah tanpa sandal. Kakinya seperti sudah kebal menahan kerikil-kerikil tajam dan panasnya aspal di siang hari.

“Iya bu. Naiknya pakai apa?” timpal anak lainnya.

Bu Anis hanya tersenyum. Ia seperti sudah bisa menebak pertanyaan itu akan dilancarkan oleh beberapa anak. “Hari ini ibu membawa banyak buku ensiklopedia negara-negara terkenal.” Tangannya mengeluarkan buku-buku dari tas plastik berwarna merah muda yang berada di atas meja. “Ada yang mau??,” pancing Bu Anis sambil menunujukkan beberapa buku ke arah kami.

“Mau…..!!” serentak kami semua menjawab pertanyaan Bu Anis.

Bu Anis melihat ke arah kami. Ia seperti menghitung-hitung jumlah kami. “Buku milik ibu sepertinya kurang. Jadi ibu berikan satu buku untuk dua orang. Terserah berpasangan dengan siapa saja,” Bu Anis Mengarahkan.

Kami semua memilih pasangan masing-masing. Kemudian mengambil buku ke meja Bu Anis. Memang jumlah penghuni bilik ini yang paling banyak dibanding bilik kelas lainnya. Sekitar delapan belas kepala dengan pemikiran berbeda duduk di dalam bilik kelas ini.

“Tolong kalian baca sebentar. Nanti kita diskusikan apa yang menarik menurut kalian dari masing-masing negara,” kata Bu Anis. Ia tak segera duduk. Melainkan berjalan mengitari kami. Mencoba menjelaskan kepada para muridnya jika ada sesuatu yang kurang dipahami.

Bu Anis adalah Bunga Iris bagi kami. Guru yang unik, khas dan mengundang ketertarikan dari kami. Caranya mengajar tak sekedar mengejar nilai semu di rapor nantinya. Ia lebih senang anak-anak didiknya memahami apa yang dipelajari dan bisa menggunakannya dalam realita. Bukan untuk sekedar berlomba mencari nilai tertinggi dari hasil ujian tertulis. Nilai yang bagus bisa didapat dengan cara curang. Sedangkan pemahaman terhadap sesuatu merupakan hal yang tak bisa dimanipulasi.

Bunga Iris merupakan gambaran yang paling mendekati bagaimana sosok Bu Anis. Bentuk bunga Iris yang unik dan berbeda dari bunga lain cocok dengan caranya mengajar. Apalagi bunga Iris adalah bunga istimewa di perancis. Bunga Iris atau yang dikenal dengan Fleur-de-lis,  dijadikan lambang kerajaan oleh Raja Charles V.

Bu Anis juga berasal dari kalangan berada, seperti halnya Pak Ramdani. Ia berasal dari keluarga dokter. Bu Anis dan Pak Ramdani inilah yang mengubah sedikit pandanganku pada orang-orang berjas. Mereka adalah sedikit contoh orang-orang berjas yang mau ikut membantu kami, kalangan rendahan. Meski masih banyak orang-orang yang merasa begitu jijik berada bersama kami, kotor, tidak sehat, penyakitan, sok steril.

Di saat kebanyakan sekolah begitu menggenjot siswa-siswanya dengan beban-beban materi pelajaran. Sangat jarang mendorong siswa untuk memakai ilmu yang didapatnya dalam realita. Tak ada yang namanya kegiatan kreatifitas dalam pelajaran. Kreatifitas hanya diperlukan saat ada perlombaan-perlombaan, yang ujung-ujungnya dijadikan sekolah sebagai ajang mendapatkan prestise. Apa jadinya siswa-siswa mereka jika harus persaingkan hanya untuk mengejar prestise sekolah semata. Tak bermoral.

Yang paling parah, banyak sekolah yang kini menjadi ladang bisnis. Bagaimana tidak, sekolah negeri yang di bawahi oleh pemerintah justru meminta biaya yang lebih mahal dibanding sekolah-sekolah swasta. Dengan alasan mutu yang tinggi maka diperlukan biaya yang tinggi pula, mereka begitu mudah memasang tarif di dunia pendidikan. Mutu bisa didapat dengan harga yang murah jika sekolah mau melupakan prestise semata.

Hal serupa juga dilakukan perusahaan-perusahaan milik orang-orang berjas. Semua hanya memandang seseorang dari nilai dan strata pendidikan. Tak tahu diri, Pantas saja banyak pengangguran di negeri ini.  Ah! Aku tak bisa memikirkan seperti apa nantinya kondisi kami, rakyat terabaikan. Jika mereka hanya memandang demikian. Bagaimana nasib kami yang begitu susah untuk dapat mengenyam pendidikan. Kami juga bagian dari rakyat ini, bukan musuh. Kami jauh lebih bangga terhadap negeri ini dibanding orang-orang berjas. Mereka yang petantang-petenteng memamerkan produk, bahasa dan budaya barat. Seperti itukah nantinya masa depan kami, suram, terbengkalai, dan akhirnya mati tak dipedulikan.

“Ada yang mau ditanyakan?” Pertanyaan itu mengagetkan ku, membangunkanku dari lamunan sesaat.

Ah!! Tidak!! Aku tidak terlalu fokus membaca buku ini. Pikiran ku mengawang-awang tidak pada waktu yang tepat.

Dua orang mengacungkan tangannya. Anak perempuan yang memang paling aktif saat sesi diskusi seperti ini dan Domain, temanku yang paling aneh. Bu Anis diam sesaat. Ia sepertinya memilih di antara kedua anak yang mengacungkan tangan. Tapi, matanya mengarah ke anak perempuan itu.

“Aufa. Apa yang mau ditanyakan?” Senyum tak pernah hilang dari wajah Bu Anis.

“Saya mau tanya. Ibu bisa jelaskan mengapa jika kita membaca buku tentang suatu daerah, kita disebut mengunjungi daerah itu?,” tanya perempuan yang ternyata bernama Aufa itu. Pertanyaan yang memang terdengar seperti pertanyaan anak-anak SD di sekolah umum. Tapi, pertanyaan itu sepertinya mewakili beberapa pertanyaan yang ingin dilontarkan anak-anak lainnya, namun tertutup malu.

“Buku itu jendela ilmu pengetahuan.  Sedangkan pengetahuan itu jendela dunia. Jika kita membaca buku mengenai suatu negara, kita akan mengetahui bagaimana keadaan negara itu. Jadi, seolah kita sudah pernah mengunjungi negara yang kita baca itu,” jawab Bu Isna. Jawabannya terdengar mengurai bagi kami. Memang kami masih jauh tertinggal dibanding siswa-siwa sekolah umum, kecuali Domain dan Aufa.

Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir. Kami seperti tergerak untuk bertanya pada Bu Anis. Inilah keunikan lain dari Bu Anis, ia mampu membuat kami bertanya tentang hal-hal yang kurang kami pahami. Tidak seperti guru-guru lainnya, kami dikalahkan rasa malu.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan