Berlari bersama mimpi Bagian 3

Rintik hujan sudah mereda. Kini di jalan berceceran sisa-sisa air hujan. Menggenang di hampir semua sisi jalan beraspal tanah merah. Matahari sudah benar-benar menampakkan wajahnya, seratus tigapuluh derajat ke arah timur. Sebaliknya, di arah berlawanan, pelangi berbentuk setengah cakram menghiasi langit. Warna-warni agak kelam melintas dari satu awan ke awan lainnya. Aku dan anak lain sebaya ku, cuma tahu tiga warna, merah, kuning, dan hijau, seperti lampu di perempatan jalan. Berbeda dengan pendapat para ahli, yang seringkali identik dengan rambut beruban dan agak botak di belakang. Tapi biarlah, itu kata mereka, aku lebih percaya dengan apa yang ku lihat. Terserah apa kata mereka.

Udara dingin masih membekas. Melekat di pori-pori. Hujan sedikit mengubah kegiatan rutin orang-orang. Jam tidur jadi lebih panjang, lebih nyenyak. Jalan jadi lebih lengang, lebih mudah mencari napas. Pengunjung pasar jadi lebih sedikit. Pasti raut wajah para pedagang jadi lebih kusut sesampainya di rumah. Kusut karena dagangan tidak laku ditambah penagih hutang yang mungkin sudah menunggu di depan pintu rumah.

Aku sudah mengenakan kemeja kotak-kotak, seperti sarung yang kebanyakan dijual di pasar. Kombinasi warna biru dan hitam, kurang menarik. Pakaian ini lebih layak aku kenakan dibanding kaos yang ku pakai saat memulung. Lusuh, dekil dan berkuman, begitukata orang yang mengaku cinta kebersihan. Jadi, kesehatan orang bisa dilihat dari bajunya. Kotor pangkal penyakitan, bersih pangkal sehat. Logikaku sendiri.

Aku memang seorang pemulung. Aku memang seorang rakyat rendahan. Seorang hamba dalam strata sebelum revolusi perancis. Seorang kerah hijau dalam masyarakat industri di Inggris. Tapi aku masih mempunyai harga diri, tidak bisa dipandang remeh oleh orang lain. Harga diriku adalah agamaku, keyakinanku dan apa yang memang kumiliki. Aku mungkin tak akan pernah tinggal diam jika ada seseorang yang menggangunya. Siapa mereka? Berani-berani mencoba merusak harga diriku. Kalian yang merasa lebih tinggi dariku, lebih besar dariku, sebenarnya tak ada bedanya denganku. Sama-sama hamba di hadapan Tuhan, dzat yang melibihi semua yang ada di semesta ini.

Pintu rumah diketuk dari luar. Perhatianku masih pada baju yang ku kenakan. “Tuk, tuk, tuk.” Ketukan masih terdengar, hingga akhirnya rangsangan suara itu sampai di telinga ku. Melalui saraf nervus vestubulokoklearis hingga akhirnya ke otak.

Aku memalingkan wajahku. Tanganku masih bergerak memasang kancing-kancing yang terpasang. “Tunggu, tunggu sebentar,” jawabku singkat.

Ketukan itu berhenti, pesanku tersampaikan pada seseorang di luar sana.

Kini bukan cuma wajah yang ku palingkan, tubuhku sudah sepenuhnya menghadap pintu. Melangkahkan kaki, tanganku bergerak ke depan, bersiap membukakan pintu.

“Kita berangkat sekarang, bang?” Pertanyaan itu langsung terucap dari Didi yang berada di luar begitu pintu ku buka.

“Oh, iya Di. Tunggu, abang mengambil tas dulu.” Aku segera melangkahkan kaki, mengambil tas yang bergantung di dinding atas ranjang.

Aku keluar dari rumah, menutup pintu, tak mengunci atau pun menggemboknya. Tak ada yang berharga di dalam rumah ini. Lagipula sejak dulu, maupun aku atau wanita tua yang merawatku tak pernah menguncinya. Aku mengambil sepeda tua yang ku letakkan berdampingan dengan gerobak yang biasa ku pakai memulung. Ada dua sepeda tua di rumah ini. Yang satu sudah dilas menyatu dengan gerobak, yang satu untuk keperluanku menjelajah di antara ruko-ruko penghasil uang. Sepeda ini jauh lebih tua, bahkan dari umurku sendiri. Entah siapa pemilik pertamanya, sepeda ini sudah teronggok tak lengkap.

Aku mulai mengayuhkan pedal sepeda, membonceng Didi, anak tetangga yang berumur lima tahun lebih muda dariku. Aku sering pergi ke sekolah bersama Didi jika tidak memulung. Sekalian meringankan beban orang tuanya yang tidak bisa mengantarnya, karena mengurusi adik-adiknya yang masih kecil. Bukan pengikut aliran Keluarga Berencana.

Kebanyakan keluarga di sekitar tempat tinggal ku kacau, berantakan. Keluarga Disfungsional, terlalu banyak konflik dan masalah. Selain nyanyian ringkih tangis anak-anak di pagi hari, nyanyian bentakkan dan pertengkaran juga melantun di malam hari. Perkampungan yang benar-benar padat, padat akan hal-hal yang membuat kepala hampir meledak. Bom waktu yang tinggal menghitung detik.

Sepeda melaju di dekat trotoar jalan. Tak punya niat sedikit ke tengah, cari masalah. Klakson bertubi-tubi siap menyambut jika aku melaju di tengah jalan. Jalan ini milik kendaraan bermotor, saling melaju seperti berada di sirkuit balap. Jika terjadi tabrakan, sudah ada standar baku penyelesaiannya. Pemilik kendaraan yang lebih mahal akan mengecek lecet di badan kendaraannya, tidak memperhatikan jika pengendara lainnya ambruk di jalan. Jika sama-sama tidak terluka, cuma lecet pada kendaraan. Pemilik kendaraan yang lebih mahal akan mencak-mencak pada korban tabrakan lainnya. Tak peduli jika dirinya sendiri yang salah. Lagi-lagi berlaku hukum “Yang lebih kuat dan kaya selalu benar”.

Aku teringat kecelakaan yang menimpa seorang kakek saat aku memulung dulu. Si pemilik kendaraan sangat gusar, raut wajahnya tak beraturan, benar-benar gusar. Tapi ada satu hal yang salah. Si pemilik kendaraan gusar bukan karena kondisi kakek yang tergeletak karena tertabrak, tapi karena kondisi mobilnya yang lecet. Ia lebih takut pada amarah sang ayah dari pada kemarahan Tuhan akibat dirinya menelantarkan kakek yang tergeletak. Moral yang benar-benar parah. Kalau aku dan warga lainnya tidak mengepung dirinya, mungkin ia sudah lari, tak mau bertanggung jawab sedikitpun.

Didi sama sekali tak bicara padaku. Ia sibuk menghitung hal-hal yang menarik penglihatannya. Ia begitu mudah tertarik pada sesuatu yang belum pernah dilihatnya. Pasti ia akan melancarkan pertanyaan demi pertanyaan pada sesuatu yang dilihatnya. Akan membuat jengkel siapa saja yang ditanyai, tapi justru ini sisi baiknya. Ia jadi lebih cepat berkembang, lebih banyak tau akan sesuatu. Ia jauh lebih hebat nantinya, dibanding orang-orang yang sok tau. Seolah mampu mengerjakan semuanya, padahal tak memiliki kemampuan sedikitpun.

Kini sepeda melambat, setelah melewati sebuah mushalla di pinggir jalan, aku menerobos masuk ke sebelah kiri persimpangan. Jalan tak terlalu rata, batu-batu gunung bekas aspal tampak menyembul keluar,jelas sudah rusak.

Aku memarkirkan sepeda di halaman sebuah rumah yang di depannya terdapat papan nama “Sekolah Terbuka – Mursyidul Ulum –“. Aku berjalan diiringi Didi, mengitari sisi kanan rumah yang sengaja dibuat lorong. Tepat di belakang rumah itu terdapat bilik-bilik ruangan yang dipergunakan sebagai tempat belajar. Tak kurangdari tujuh bilik kecil berukuran duapuluh empat meter persegi berjejer membentuk huruf “L” di bagian belakang rumah.

Cukup luas memang sekolah terbuka ini. Dulu, kata beberapa guru pengajar senior, tempat ini hanyalah tanah kosong, hanya ada rumah kecil di depan yang sekarang berfungsi sebagai ruang guru. Tapi karena keinginan Pak Ramdani, pemilik dan kepala sekolah kami, akhirnya dibangun sekolah terbuka ini. Kami semua patut bersyukur, karena kami diberikan kesempatan untuk mendapatkan ilmu.

Beberapa anak-anak telah berkumpul di masing-masing ruang kelas. Tiga kelas dipergunakan untuk tingkat SMP, dan sisanya empat kelas untuk tingkat Sekolah Dasar. Tingkat SMA sudah selesai belajar kira-kira setengah jam yang lalu. SMA belajar lebih dulu, mulai pukul 13.00 sampai pukul 15.30, sedangkan SMP dan SD pukul 16.00 sampai pukul 18.00. Lebih sedikit waktunya ketimbang SMA, mungkin pelajaran mereka lebih sulit.

Didi berlari menuju bilik belajarnya, berkumpul dengan teman-teman sebayanya yang kebanyakan anak jalanan dan pengamen. Aku berjalan agak cepat menuju bilik kelasku, bilik ke tiga dari depan. Aku ingin mendapatkan tempat duduk paling depan. Posisi paling ideal untuk melihat ke papan tulis hitam penuh bekas kapur. Tanpa harus terhalangi kepala-kepala temanku yang lain jika harus duduk di belakang.

Takada kursi di bilik ini, hanya meja cebol yang kakinya tak sampai duapuluh lima senti. Kami hanya duduk bersila di lantai yang dilapisi karpet tipis berwarna hijau. Tak ada dinding di sisi kiri dan kanannya. Hanya sekat dari tripleks ditempeli papan tulis hitam dan beberapa poster yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Di atas papan tulis tertempel potret Pak Presiden dan wakilnya. Mengenakan songkok warna hitam dengan latar bendera merah putih.

Murid-murid penghuni bilik belajar ini mulai berdatangan satu demi satu. Mengisi beberapa barisan meja kosong, berebutan. Jam dinding terus berdetak mengitari deretan angka yang melingkar, dari kiri ke kanan. Anak-anak prajurit jalanan, ya, prajurit jalanan. Perang di jalan sebagai anak jalanan dan pengamen. Sering kali dikejar serdadu berpakain seragam yang menangkapi mereka dan mengaraknya dengan mobil truk berwarna serupa seragam mereka. Anak-anak prajurit jalanan ini sepertinya sudah terlalu lapar menunggu hidangan ilmu hari ini. Tak sabar menyantai(p) nikmatnya ilmu pengetahuan yang tersebat di setiap sudut muka bumi ini. Mereka tampak gaduh membuka-buka buku dan mengores-goreskan ujung pulpen di beberapa bagian meja cebol.

Lonceng tanda belajar berbunyi. Lonceng dari pelek mobil bekas karatan. Bergantung di kawat bagian belakang rumah. Para prajurit jalan duduk berbaris di meja cebol. Menyiapkan senapan berupa pulpen ditangan masing-masing. Menunggu sang komandan yang tak lain guru pengajar yang akan memasuki bilik kelas.

Tak lama, seorang bapak yang sudah sangat berumur masuk ke bilik ini. Uban tak hanya menutupi bagian rambutnya, tapi sudah menjalar ke kumis tipis dan janggutnya. Wajahnya mirip Sir Alex Ferguson, pelatih kawakan tim sepak bola dari eropa sana. Tapi itu jika kumis tipis dan janggutnya ditiadakan. Derap langkah kakinya masih saja tegas, tidak seperti umurnya yang hampir mencapai enampuluh satu tahun. Berbeda dengan orang muda yang sekarang yang melangkah seperti orang tua, padahal umurnya masih terbilang fajar.

Beliau adalah Pak Ramdani, pengajar sekaligus kepala sekolah terbuka ini. Ia memang pengajar paling senior di sekolah ini, bahkan pengajar pertama. Karena dirinya lah yang mendirikan sekolah tempat kami duduk sekarang ini. Orang yang rela bolak-balik mengurus akta pendirian sekolah ini ke dinas-dinas terkait. Orang yang rela harus berlarian di usia senja untuk mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan di daerah ini. Orang yang rela napasnya semakin berat mengajar para prajurit jalanan yang seperti ayam lepas dari kurungan ini.

Usahanya tak sia-sia. Sekolah ini kini telah di akui dinas terkait. Bahkan, kini telah mendapat bantuan dari beberapa Sekolah Negeri yang meminjamkan pengajarnya. Usaha yang terbayar. Kini tinggal bagaimana pengelolaan sekolah hasil jerih payahnya ini.

Beliau sebenarnya dari kalangan berada. Anaknya pengusaha perkebunan besar di kabupaten tetangga. Tapi ia benar-benar mengabdikan dirinya pada dunia pendidikan. Dengan latar belakang seorang guru di sekolah yang kini menjadi paforit di kota ini. Setelah pensiun, beliau masih mau mengajar sebagai tenaga honorer untuk anak didiknya. Hingga akhirnya terlintas ide untuk mendirikan sekolah terbuka gratis, untuk orang-orang seperti kami, prajurit jalanan.

Ia kini berdiri di samping meja guru. Tak duduk, hanya meletakkan buku yang dibawanya di atas meja. Matanya kini memandang ke arah kami. Hela napas tuanya samar terdengar di telinga ku. Ia tak mengucapkan kata-kata sedikitpun kecuali salam yang ia ucapkan saat pertama melangkah masuk bilik ini. Satu detik, tiga detik, tujuh detik, limabelas detik, duapuluh satu detik,akhirnya, ia bicara.

“Bapak benar-benar bangga.”

Kami semua terdiam. Tak mampu mencerna maksud perkataan beliau. Mungkin beberapa ada yang berusaha menerka di dalam hati, tetap tak mampu.

“Bapak bangga pada kalian anakku. Kalian yang memiliki kemauan besar untuk belajar.”

Kami mulai sedikit mengerti, meski tak sepenuhnya.

“’Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Beliau kembali melanjutkan kata-katanya. “Kalian ingat siapa yang mengucapkan kata-kata itu? Ada yang tahu?.”

Kami semua saling pandang. Tak bisa menjawab pertanyaan membingungkan Pak Ramdani. Mungkin jika wajah Pak Ramdani seperti preman-preman di pasar, atau para petugas Satpol PP yang biasa mengerjar kami, kami akan lari, ketakutan mendengar pertanyaan seperti itu. Tapi, yang bertanya adalah Pak Ramdani. Setiap perkataan beliau terdengar halus di telinga kami. Beliau tak kurang dari seorang ayah bagi kami sendiri.

Tiba-tiba satu orang anak mengangkat tangannya. Seorang anak perempuan yang jauh kelihatan lebih bersih dari kami semua.

“Soekarno Pak. Presiden kita yang pertama,” jawabnya dengan senyum sedikit mengembang.

Kami semua kini memandang wajah Pak Ramdani. Menunggu reaksi raut wajahnya setelah mendengar jawaban itu.

“Benar. Itu perkataan dari Soekarno, presiden pertama kita. Tapi, jangan cuma beliau yang mengatakan itu. Kalian juga harus mengatakannya, dan juga harus bisa menjadi pemuda yang dimaksud Pak Soekarno.” Beliau tersenyum simpul saat mengatakannya.

Kami semua akhirnya mengerti apa yang dimaksud Pak Ramdani. Ini memang perilaku unik beliau. Membangkitkan semangat anak didiknya dengan kata-kata yang sering kali membuat kami bingung. Ciri unik gaya belajar Pak Ramdani. Ramdani’s Method.

“Kalian semua ini tak berbeda dengan anak-anak lainnya. Tak berbeda dengan anak-anak jepang yang kreatif, tak berbeda dengan anak-anak dari eropa dan amerika yang katanya cerdas. Kalian sama. Sama-sama menentukan nasib kalian sendiri dan bangsa ini kedepannya.”

Kami semua terpana, terhipnotis kalimat pembakar semangat Pak Ramdani.

“Man jadda wa jadda. Ingat pepatah arab itu. Kalau kalian sungguh-sungguh, kalian akan berhasil. Jangan pernah bergantung dari orang lain, paling tidak kalianlah yang harus banyak membantu orang lain kelak. Bapak ingin, ilmu yang kalian peroleh kemarin, hari ini, esok dan seterusnya bisa memberi manfaat. Jangan cuma mengejar nilai di ijazah.”

Beliau mengambil buku yang dari tadi diletakkan di meja. Membuka halaman demi halaman. Mencari bahan apa yang harus diajarkannya hari ini. “Siapkan buku kalian. Kita lanjutkan pelajaran kita untuk hari ini.”

Kami semua membuka lembaran buku, menyiapkan lembaran kosong untuk kemudian dituangi dengan tinta-tinta ilmu pengetahuan. Ramdani’s methodseperti telah berhasil menyiapkan otak kami menerima ilmu hari ini. “Barang siapa yang tidak mampu memberi apa-apa, dia juga tidak bisa merasakan apa-apa.” (Friedrich Nietzsche (1844—1900), filsuf klasik Jerman).

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan