Berlari bersama mimpi Bagian 2

Mendung menutupi langit di atas kota ini. Awan-awan berbentuk cendawan hitam besar menyelimuti seluruh langit. Beberapa kali terdengar dentuman gemuruh dari  awan-awan hitam.Memberikanpertanda kepada setiap orang yang sedang asyik bertransaksi di pasar-pasar, berkerumunan padat di jalan, dan bersenda gurau di kantor maupun sekolah. Sebuah pertanda, pertanda akan turunnya hujan. Seakan berbicara ke telinga setiap orang, “aku akan turunkan muatanku, siap atau tidak, aku akan menurunkannya. Ini  rezeki dari penciptamu, maka terimalah”.

Maka, orang-orang akan bersiap. Jas hujan, payung atau hanya sebuah kantong plastik yang berbunyi tak elok. Semua mereka lakukan agar tidak kebasahan. Tak jarang ada yang mengumpat karena tak mengenakan sedikitpun pelindung hingga akhirnya basah kuyup. Orang-orang di pasar beberapa kali mendongakkan wajahnya ke atas. Memperhatikan apakah hujan sebentar lagi akan turun, atau masih ada waktu untuk menawar barang jualan semurah mungkin.Menghemat pengeluaran atau sekedaruntuk menambah jumlah pembelian.

Langit semakin temaram, tak lagi bersahabat. Awan-awan semakin menghitam dan berteriak melalui gemuruhnya. Angin ikut memperkeruh keadaan, semakin kencang dan kencang. Lengkap sudah gejala-gejala hujan. Tinggal menunggu rintikan air yang turun butir demi butir, tidak jatuh sekaligus seperti ketika siraman air dari gayung. Jika benar hujan turun, aktifitas di jalan, di pasar atau di tempat terbuka lainnya akan sedikit mereda, berkurang dari kerumunan manusia. Seolah takut dengan tetesan hujan yang lebih kecil dari ukuran badannya.

Tetes demi tetes air hujan mulai turun. Bergiliran terjun bebas dari papan loncatnya di atas awan sana. Membasahi jalan dan tanah sedikit demi sedikit, seperti sebuah puzzleyang tersusun secara perlahan hingga akhirnya lengkap, membasahi penuh jalan-jalan. Butiran-butiran kecil air hujan masih terasa nyaman ketika menerpa kulit, memijat-memijat kecil. Semakin lama tetesan itu semakin besar, cepat, dan banyak. Kini terpaan air hujan tak lagi memijit, tapi seperti tusukan ribuan bahkan jutaan jarum dari atas langit, turunsemakin deras.

Hujan mengguyur setiap sudut tempat terbuka, hasil perpaduan hujan muson dan hujan frontal. Begitu lebat di pertengahan bulan Desember. Sinar matahari tak dapat menyentuh permukaan bumi dengan sempurna, kalah tertutupi awan-awan hitam berbentuk cendawan. Hawa dingin mulai menyeruak, merasuk lewat indera peraba dan perasa manusia. Menerobos lewat pori-pori kulit, seakan menusuk-nusuk saraf dan tulang belulang. Ditambah terpaan deras angin yang membawa embun-embun tempias air hujan. Kondisi ideal, ideal bagi seorang pemalas yang ingin meneruskan tidurnya.

Aku hari ini hanya bisa termangu. Aku duduk lesu menatapi tetesan air hujan satu demi satu. Dari balik jendela kayu berlubang di sisi kiri atasnya,matakumencoba menghitung rintikan air hujan. Butiran air hujan yang pecah terhempas di jalan terlihat seperti berlian yang terhamburdi mataku, tapi tidak benar dalam realita. Saraf optik di mataku mungkin sudah rusak, setiap benda yang kulihat selalu saja terimajinasikan menjadi benda lain. Mungkin ini gara-gara makanan tak sehat yang sering kumakan. Dampak jika hidup tak sehat yang sering dikoar-koarkan para dokter berbaju putih di televisi umum pasar dan koran-koran bekas yang kubaca. Kesimpulan yang dapat kutarik, jika ingin tetap normal, hidup sehat, makan dan minum yang sehat.

Aku tak menyalahkan perkataan dokter-dokter berbaju putih itu. Aku sendiri ingin hidup sehat. Tapi dalam realita, lebih banyak orang yang merusak kesehatan orang lain, meskipun dirinya hidup sehat. Logika, opini, atau realita, lihat saja sendiri. Orang-orang kaya yang katanya suka hidup sehat malah merusak kesehatan orang lain. Asap mobil mereka, asap pabrik mereka, asap rokok mahal mereka dan banyak limbah industri milik mereka. Aku mengubah sedikit pemahamanku mengenai hidup sehat. Jika ingin tetap normal caranya mudah, hidup sehat dan jadi orang kaya.

Dari balik jendela rumah aku masih memandangi tetes hujan. Melihat ke arah anak-anak yang berlarian di jalan yang berlumpur, becek karena hujan. Jalan di dekat rumah ini memang tidak terbuat dari aspal, batako atau semen seperti kebanyakan jalan komplek perumahan warga umumnya. Daerah tempat tinggalku ini juga bukan perumahan. Hanya sebuah tumpukan gubuk-gubuk yang berdiri tak beraturan, tak berestetika seperti dalam dunia arsitektur. Rumah-rumah berdempetan, nyaris tak ada celah, bahkan satu dinding. Bahan bangunannya pun tak kalah acak-acakan, ada yang dari kayu bekas, lapuk, triplek ataupun kombinasinya.

Dalam arsitektur mungkin sudah terdapat sebuah kaidah baku. Rumah harus tercipta indah dan nyaman bagi penghuninya. Kedua unsur itu mungkin tak bisa ditemui dari rumah-rumah di daerah ini.Jangan berharap bisa mendapatkan rasa nyaman saat tinggal di tempat ini. Daerah ini memang di pinggiran kota, benar-benar pinggiran. Akan lebih pas jika menyebut daerah ini sebagai sebuah kampung dibanding wilayahkota.Begitu kentara perbedaannya. Di kota identik dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang. Di tempatku ini malah dipenuhi tiang-tiang kayu berlumut penyangga antena televisi atau sarang burung yang menjulang dari atas atap. Serupa tapi seratus persen berbeda.

Retina mataku masih menangkap pandangan anak-anak yang berlari-larian di jalan becek. Ada yang cuma mengenakan celana pendek, bahkan tanpa mengenakan apapun. Mereka memang masih anak-anak, tak ada rasa malu pada diri mereka. Lain halnya jika aku ikut berlarian seperti mereka, memalukan. Aku mungkin akan membenamkan wajahku ke dalam kubangan lumpur berhari-hari jika aku melakukannya.

Di sekitar rumah ini memang dipenuhi anak-anak. Mungkin para orang tua mereka berlomba untuk melahirkan anak terbanyak. Satu keluarga bisa saja memiliki lebih dari tiga anak. Program KB mungkin kurang tersosialiasi pada mereka, atau mungkin mereka sendiri yang enggan menggunakannya. Jadi jangan heran,  jika pagi menjelang, tangisan dan rengekan akan menemani telinga. Mengiang-ngiang seperti simponi musik-musik klasik, mozart atau sejenisnya.Nada yang naik dan turun. Nyanyian pagi, memerahkan telinga bagi yang pertama kali mendengarkannya.

Rengekan ringkih meminta uang saku untuk sekolah, bayi yang ingin menyusu atau rengekan ingin dibelikan mainan yang dibawa penjual keliling. Jadi, si penjual keliling tak boleh ke sini saat pagi, setidaknya mengurangi satu genre tangisan dan rengekan anak-anak. Salah satu cara membuat tempat ini lebih tenang. Tapi tak adil rasanya jika harus menghalang-halangi usaha orang, tidak etis. Aku bukan penguasa yang congkak dan dzalim, sama sekali bukan. Karena aku memang bukan penguasa, cuma manusia biasa yang paling tidak berusaha jangan mengganggu orang lain demi keinginan sendiri.

Dari balik jendela kayu berlubang itu, aku menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya. Aku memalingkan tubuh ke belakang, berputar seratus delapanpuluh derajat. Kini menghadap kasur lapuk di atas ranjang yang terbuat dari bambu yang diikat. Sederhana, kotor dan kurang nyaman jika dilihat. Tapi bagiku itu adalah sebuah springbedberkelas, tak kalah dari yang ada di iklan televisi. Cuma ranjang dan lemari kayu tak kalah menyedihkan yang ada di rumah ini, atau mungkin tak bisa di sebut rumah. Ukurannya cuma sebesar kamar mandi di rumah-rumah mewah milik para triliuner. Ya, triliuner, kata jutawan dan miliarder sepertinya sudah tak lagi mampu menghitung kekayaan mereka.

Di atas lemari terdapat buku-buku bacaan lusuh dan bertanah. Mulai dari mengeja huruf, membaca, berhitung, mengenal benda dan hal-hal umum lainnya. Semua itu kudapat dari hasil memulung, beberapa ada yang kubeli tapi tak kujual lagi pada tengkulak. Tak terlalu memiliki prestise memang, tak ada bacaan dari penulis-penulis ternama. Tak ada buku-buku yang tebalnya lebih dari ratusan tumpuk koran bekas. Hanya buku-buku pengantar untuk pelajar SD atau di bawahnya.

Umurku memang sudah lima belas tahun. Setidaknya kini aku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama atau apapun sebutannya, jika aku sekolah. Tapi inilah yang kuhadapi, pada kenyataannya aku memang tidak sekolah. Tapi beruntung, tak jauh dari pasar induk ada sebuah sekolah terbuka yang mau menampung diriku, bersama banyak remaja-remaja seumuranku. Sekolah yang tak menarik sedikitpun biaya pendidikan.Memang seperti itulah seharusnya sebuah negara menyediakan pendidikan bagi warganya. Aku sungguh beruntung bisa mendapat pendidikan gratis itu, sungguh beruntung.

Aku memalingkan pandanganku pada dinding rumah dari tripleks yang tercabik-cabik. Di situ tertempel tulisan lafadzAllah di sebelah kanan dan lafadz Nabi Muhammad di sebelah kiri. Di bawahnya tertempel potret-potret orang yang ku kagumi. Para Sahabat Nabi, B.J. Habibie, Soekarno dan beberapa orang yang aku lupa namanya. Semua potret itu ku dapat dari tong sampah di seberang sebuah sekolah. Lagi-lagi dari tempat pembuangan.

Seperti itulah keadaan rumah ini, hanya seperti itu, tak lebih. Cukup berjalan ke daerah paling kumuh di sekitar kota, cari rumah atau mungkin gubuk yang ringkih, seperti itulah keadaan rumahku. Cukup mudah mencarinya di masa seperti ini.

Hujan nampaknya tak akan mereda dalam waktu dekat. Makin deras, makin keras. Atap seng di atas rumah tak berhenti berbunyi, berisik. Seperti dilempar ratusan batu kerikil bertubi-tubi. Di tambah lagi angin yang mau menerbangkan beberapa atap seng yang tak terpaku dengan  benar. Mungkin hari ini aku harus mengerjakan hal lain, memulung mungkin kurang efektif. Apalagi uang di kantong plastik hitam hasil dari barang yang ku jual pada tengkulak masih lumayan mencukupi. Aku cuma makan sehari dua kali, nasi dan lauk seadanya. Tak ada makanan yang mengundang air liur. Hari ini telor, besok ikan asin, lusa telor, esoknya lagi ikan asin.

Tanganku meraih sebuah handuk berwarna biru hampir luntur. Rambutku yang basah karena mandi sama sekali belum ku keringkan, acak-acakan. Mataku memandangi poster mendiang mantan Presiden Soekarno. Aku kini seolah berada di tempat saat beliau memproklamasikan kemerdekaan, jalan Proklamasi atau yang dulu dikenal jalan Pegangsaan Timur. Bediri di antara Soewirjo, Wilopo, Tabrani, Trimurti, Sayuti Melik dan beberapa tokoh Pergerakan Nasional lainnya. Terjadi pencitraan kondisi saat pembacaan proklamasi di bagian mesenchepalon otakku. Gegap gempita, semangat dan rasa kemenangan yang menggelora di setiap dada yang hadir pada saat itu. Takjub, gembira.

Aku tersenyum. Meski sampai detik apa yang di amanatkan oleh Pancasila belum di jalankan sepenuhnya oleh orang-orang berdasi di kantor rakyat sana. Aku tetap yakin, akan tetap ada orang yang memperjuangkannya. Memperjuangkan kemerdekaan yang menyeluruh, bukan hanya milik kalangan berdasi. Merdeka, tidak lagi diperbudak oleh keangkuhan orang-orang besar.

Aku berjalan keluar, membuka pintu tanpa gagang atau daun pintu. Hanya sebuah pengunci dari tembaga bercampur timah berwarna hitam. Tak ada teras di depan, hanya tanah kemerahan yang terinjak ketika melangkah keluar rumah. Tetesan air hujan tak bisa menyentuh bagian rumah ini karena atap seng yang sengaja dijulurkan ke depan.

Anak-anak kecil itu masih hujan-hujanan, berlari-larian. Seperti anak kucing yang bermain dengan saudaranya, berguling-guling di tanah basah.

“Didi!,” panggilku pada salah satu anak yang sedang hujan-hujanan.

“Iya, Bang.” Anak kecil telanjang dada dan berkulit agak gelap menjawab panggilanku.

“Nanti sore ke sekolah? Kalau sekolah ikut abang saja. Biar berangkat bareng,” aku menyampaikan maksudku dengan agak berteriak karena suara hujan yang deras.

“Iya, Bang. Nanti aku datangi rumah abang kalau mau berangkat.” Anak kecil itu menjawab tanpa menoleh, seolah kurang memperhatikan. Memang seperti itulah anak kecil.

Umurku dan anak kecil itu memang terlampau jauh, sekitar lima sampai tahun lebih muda dariku. Ia juga bersekolah di sekolah terbuka tempatku belajar. Aku tak malu belajar bersama dengan anak-anak yang jauh lebih muda dariku. Untuk apa aku malu, belajar itu memang kewajiban dari lahir sampai meninggal. Jika mereka jauh lebih pintar dariku, aku harus bersyukur. Itu berarti ada tempat bagiku jika ingin bertanya. Singkirkan ego, karena ego yang tinggi tak memberi untung, apa lagi uang.

Mendung takkan beranjak dari atas langit dalam waktu dekat. Mungkin hari ini aku harus absen memulung. Mungkin, lebih baik malam nanti aku mencari kodok di pematang sawah. Saat cuaca lembab setelah hujan seperti ini, kodok banyak keluar dari sarang. Peluang bagiku. Rejeki itu sudah digariskan, kita tak perlu risau.

Aku kembali masuk ke rumah, menutup pintu. Mataku menebar pandang. Mencoba mencari sesuatu. Dari atas ranjang, lemari kemudian tumpukan buku. “Ah! Aku lupa.” Aku baru teringat barang yang kucari ada di dalam tas yang bergantung di atas ranjang. Aku benar-benar lupa. Ku raih tas itu dengan tangan kanan, membukanya. Di dalamnya terdapat dua buah buku dan sebuah pulpen. Satu buku tampak lusuh karena air. Pulpen yang ada di dalam tas pun tak kalah menyedihkan, tampak bocoran tinta yang keluar, pulpen murah. Berbeda dari pena orang-orang berdasi yang harganya cukup untuk kami merenovasi rumah jadi lebih layak. Pulpen ini memang kalah dari dari pena TIBALDI Pens Crew 60th White Gold, Omas Fountain Pen MARTE, Caran d’Ache made ‘La Modernista Diamonds’03bahkan tak memiliki nilai sedikitpun jika dibandingkan dengan The Aurora Diamante. Tapi, dengan pulpen inilah aku bisa merekam setiap jejak ilmu yang kudapatkan.

Aku mengambil buku lusuh di dalam tas. Membukanya lembar demi lembar. Mencari beberapa catatan pelajaran minggu lalu. Menyiapkan diri seandainya nanti akan ditodong dengan pertanyaan secara mendadak oleh para pengajar di sekolah terbuka. Belajar di antara desiran air hujan yang mengepung di luar rumah.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan