Berlari bersama mimpi Bagian 13

“Dan…  Zaidan…” Samar terdengar sebuah panggilan menggetarkan gendang telingaku. “Zaidan…. Dan…. Da….” Panggilan itu makin lama makin terdengar jelas. Tubuhku terasa seperti diguncang-guncangkan sesuatu. Aku tak bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi. Semua terlihat gelap, meski berkas-berkas cahaya kabur sesekali melintas di kornea.

“Dan….” panggilan itu masih terdengar. Perlahan, kelopak mataku membuka. Membiarkan cahaya menerobos masuk ke dalam kornea lalu ke pupil mataku. Mataku masih belum mampu menerjemahkan citra yang ada di hadapanku. Seperti inikah rasanya orang yang baru siuman dari sinkop, pingsan. Kepalaku masih terasa berat dan berputar-putar. Luka dipelipis kiriku sepertinya juga masih terasa pedih.

“Dan….” Suara itu terdengar lebih jelas dan nyaring di telingaku. Badanku diguncang hebat oleh seseorang yang mencengkram kedua bahuku. Padanganku perlahan makin jelas. Aku tersentak. Di hadapan ku terhampar pemandangan yang membuat pedih ulu hati. Bagaimana tidak, puluhan rumah di perkampungan ku ini mulai di robohkan dua buldoser berbentuk lengan. Beberapa warga lain tampak menangis, meratapi penggusuran tempat tinggal mereka. Hanya sekelumit barang yang bisa diselamatkan. Selebihnya, rata dengan runtuhan bangunan yang kebanyakan terbuat dari kayu.

Aku memandang wajah orang yang dari tadi mencengkram bahuku. Dia tak lain Bang Muis, pemilik bengkel las dan sepeda. Kumis lebat di wajahnya tak lagi menampilkan kesan sangar, tertutupi deraian air mata mengalir di pipinya. “Tempat tinggal kita, Dan.. tempat tinggal kita.” Air mata terus mengucur pelan.

Tak kuasa menahan haru. Mataku ikut meneteskan air mata. Sesenggukan racau dari mulutku. Sebuah pengalaman pahit yang harus kualami dalam lembaran kisah kehidupan. Di hadapan mataku terhampar reruntuhan rumah yang terus diobrak-abrik buldoser berwarna kuning. Di hadapanku puluhan warga sesenggukan, tertunduk lesu tak berdaya. Tak ada lagi sedikitpun kuasa pada diri mereka. Belasan petugas eksekusi memaku gerak-gerik. Tak segan menyungkurkan warga ke tanah jika masih mencoba melawan. Tragis.

Di suatu sudut, kulihat seonggok tubuh yang tergolek tak berdaya di tanah berlumpur yang masih di guyur hujan. Seonggok tubuh yang sepertinya ku kenali. Ya! Aku memang mengenalinya. Dia adalah bapak yang sebelumnya menemaniku berjaga. Bapak yang sebelumnya begitu berapi-api ingin menjaga tempat tinggalnya. Bapak yang begitu keras tekatnya untuk tidak diijak-injak hak dan harga dirinya. Bapak itu benar-benar tergolek tak tak berdaya. Nyaris tak ada gerakan dari tubuh tambunnya. Mungkinkah bapak itu pingsan seperti yang beberapa saat lalu ku alami. Atau mungkin, yang lebih buruk, beliau menghembuskan napas terakhir di bawah guyuran hujan.

“Ba… bapak..  it… itu…. kenapa, Bang?,” aku bertanya pada Bang Muis perihal keadaan tubuh yang tergolek di tanah itu. Menunjukkan jari telunjuk kanan ke arah onggokan tubuh tambun, sesenggukan.

Ia menoleh sebentar. Memandang ke arah yang kutunjuk. “Pak Saili. Pak Saili sudah meninggal, Dan.”

“Meninggal? Meninggal, Bang?” Aku benar-benar tak mempercayai apa yang dikatakan Bang Muis. Tak mungkin bapak itu teronggok tak diperdulikan seperti itu. Manusia macam apa mereka semua, membiarkannya tergeletak hina seperti itu.

“Benar, Dan. Bapak itu… meninggal.” Bang Muis kembali meneteskan air mata.

“Kenapa dibiarkan, Bang. Kenapa! Beliau juga manusia. Bukan bangkai kerbau yang dibiarkan seenak hati. Kenapa, Bang.” Emosi ku spontan tersulut. Kemana hati para warga, membiarkan jasad Pak Saili teronggok seperti ini. Apa mereka tak punya hati.

Bang Muis diam, tak menjawab sepatah kataku pun pertanyaan-pertanyaanku. Harus seperti inikah kuasa yang ditimbulkan secarik kertas yang mereka agung-agungkan itu. Benar-benar bobrok kenyataan yang dengan begitu jelas di depan mataku. Ini tak lebih dari keadaan berabad-abad silam. Saat di eropa para borjuis jadi penguasa. Ketika VOC yang dibekingi belanda merampas negeri ini. Tidak pantaskah kami merasakan revolusi dan kemerdekaan yang begitu lama digaung-gaungkan. Apakah hanya kumpulan orang berdasi dan memiliki kuasa yang berkompeten mendapatkan kemerdekaan. Keadaan yang benar-benar bobrok.

Kepalaku masih pening. Perih tak tertahankan akibat pukulan di pelipis kiriku terasa menggigit-gigit saraf kulit. Tiba-tiba penglihatanku kembali kabur. Kepalaku seperti melayang-layang, pusing tak tertahan. Tubuhku melemas dan akhirnya kembali ambruk.

***

Semakin tinggi tingkat peradaban manusia, semakin tinggi pula tingkat limbah yang dihasilkan. Sebuah hukum sebab-akibat yang ada benarnya. Jenis limbah yang semakin meningkat dengan segala macam variasinya jelas sebuah ancaman tersendiri. Entah mengapa, para manusia memiliki tingkat konsumsi tak wajar, serakah.

Hukum sebab-akibat itu nampaknya juga berlaku dalam kehidupan sosial. Setidaknya itulah yangkami semua alami. Orang-orang seperti kami tak lebih dari limbah korban meningkatnya perekonomian segelintir orang. Kami semacam pencemar yang tak memberikan sumbangsih pada perekonomian, hanya mengurangi pundi-pundi keuangan negara. Kami dengan begitu mudahnya dikeruk dari tempat tinggal kami sendiri seperti onggokan sampah. Dilemparkan sekenanya tanpa perduli bagaimana nasib kami nantinya.

Seleksi alam dalam kehidupan memiliki dua imbas terhadap perjalanan hidup. Di satu sisi, kita akan semakin kuat karena tempaan hidup yang mengasah dan membentuk karakter. Di sisi lain, yang tak bisa bertahan, entah karena mental yang telah lembek sejak awal atau hal lainnya, berakhir mengenaskan. Mungkin berakhir di gantungan, mulut berbusa karena racun serangga dan stress stadium akhir berwujud gila. Semua tergantung pada diri kita sendiri. Bagaimana cara kita mengartikan dan memahami setiap hal yang kita lalui dalam hidup.

Perlahan, setitik cahaya yang mulai membesar menerobos retina mata. Menampilkan citra yang ada di hadapanku. Sebuah kipas angin tua yang tertempel di dinding berwarna kuning gading. Aku seperti merebah di atas kasur kapuk yang sedikit terasa lunak. Tanganku seperti terlilit sesuatu, entah apa itu. Badanku masih terlalu lemas untuk ku gerakkan. Bajuku terasa kering. Bukankah sebelumnya aku basah kuyup kehujanan.

Aku mencoba menolehkan kepala ke sebelah kiri. Leher ini terasa begitu berat saat digerakkan, seperti lengan ayun dari besi yang diberi pelumas. Dengan mencoba memfokuskan penglihatan, perlahan ku lihat sebuah tiang dari logam yang berdiri menjulang. Di atasnya terdapat dua buah pengait seperti tangan seorang bajak laut membentuk huruf “T”. Salah satu pengait memegangi sebuah kantong plastik bening yang berisi cairan yang juga bening. Selang kecil melintang di bagian bawah, unjungnya menancap di tangan kiri bagian dalam, tertutup plester.

Di mana diriku sekarang? Di mana Bang Muis? Di mana jasad Pak Saili yang tergeletak begitu saja? Begitu pertanyaan menyesaki benakku. Berbaur dengan rasa pening yang perlahan melenyap. Ruangan ini  terasa begitu sunyi, senyap. Kemana para petugas ekskusi dzalim itu? Mengapa aku berada di tempat aneh ini? Ah! Aku benar-benar hampir dibuat gila sejenak dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul dari benakku.

“Zaidan,” sebuah panggilan dari sisi berlawanan menghampiri telingaku.

Aku perlahan menoleh, leherku masih terasa kaku. Begitu aku menoleh, ku dapati Pak Ramdani sudah duduk di sebuah kursi berbingkai logam dan kulit sintetis. Di dalam ruangan ini terdapat empat buah tempat tidur. Namun, cuma aku seorang yang terbaring lemas di dalamnya. Wajah Pak Ramdani tersenyum seperti biasa. Aura lembut dan hangat seakan menyeruak dari raut wajahnya.

“Kamu sudah merasa baikan, Dan?” Pak Ramdani mempertanyakan keadaanku. Wajahnya terasa begitu teduh.

“Su… sud.dah.. , Pak.” Suaraku teramat serak, nyaris membuatku gagap.

Pak Ramdani meletakkan telapak kanannya ke dahiku. “Jangan banyak bergerak dulu. Suhu tubuhmu sudah turun. Tinggal menunggu pemulihan saja.”

Aku memperhatikan wajah Pak Ramdani. Gurat-gurat di wajahnya seperti membuatku mengenang seseorang, entah siapa. Mungkin seperti perasaan bertemu dengan seorang ayah. Tapi…., aku sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana mempunyai seorang ayah.

“Kemarin sore, Didi mengatakan pada bapak kalau tempat tinggal kalian akan digusur.” Kata Pak Ramdani tiba-tiba, membuncahkan lamunanku mengenai sosok ayah.

“Kemarin?” Sebuah pertanyaan besar di dalam benakku. Apa aku sudah terbaring di tempat ini lebih dari satu malam. Aku melirik jam di dinding, pukul dua siang. Ah! Aku telah terbaring hampir satu hari.

“Bapak terkejut mendengar perkataan Didi. Bukankah tanah sengketa itu masih dalam tahap pengambilan keputusan oleh pengadilan. Mengapa bisa jadi demikian? Bahkan bapak lihat sendiri, mereka sudah merobohkan bangunan,” lanjut Pak Ramdani.

Aku kembali teringat pada onggokan jasad Pak Saili. Bagaimana keadaannya. Apa jasad beliau sudah diurus sebagaimana lazimnya? “Pa..k..” aku mencoba merangkai kata.

Pak Ramdanimendekatkan kepalanya, mencoba mendengarkan kata-kata yang ingin ku keluarkan.

“Jasad Pak Saili, ba.. bagaimana ja.. sad Pak Saili? Apa sudah diurus dengan la.. yak?” Suaraku masih terbata-bata.

Pak Ramdani diam sejenak. Ia seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Sudah, Dan. Jasad beliau sudah diurusi sebagaimana mestinya. Kita doakan saja semoga beliau dimudahkan jalannya,” kata Pak Ramdani mencoba menenangkan.

Hatiku jadi tenang. Sudah semestinya Pak Saili diperlakukan sebaik mungkin. Ia hanya bermaksud memperjuangkan apa yang menjadi haknya. Ia tak sepantasnya berakhir demikian oleh orang-orang tak tahu diri itu.

“Penggusurannya sudah dihentikan. Mereka melakukan pelanggaran, pengeksekusian saat pengadilan masih melakukan peninjauan kembali. Surat peringatan yang telah kalian terima sebelumnya sebenarnya sudah dibatalkan. Ada sebuah rekayasa yang perusahaan mereka lakukan.”

Sebenarnya aku tak terlalu mengerti dengan apa yang disampaikan Pak Ramdani. Yang terpenting bagiku, penggusuran sudah dihentikan. Meskipun mungkin saja rumahku sudah rata dengan tanah. Senyum mulai terkembang di wajahku. Senyum bahagia karena penghentian penggusuran.

“Kamu belum makan sejak kemarin sore, Dan. Sebaiknya makan dulu, biar badanmu tidak lemas sepanjang hari.” Pak Ramdani terlihat seperti membuatku tak memikirkan lagi masalah penggusuran itu. “Bapak sudah membelikan beberapa buah segar.” Ia menunjuk sekeranjang buah-buahan kepadaku.

Dari arah luar, terdengar sedikit kegaduhan. Seperti ada yang berlarian, entah siapa. “Zaidan!” teriak seseorang dari arah pintu ruangan ini. Aku sepertinya mengenal betul pemilik suara ini. Domain.

Di depan pintu berdiri Domain yang terengah-engah seperti telah berlari ribuan mil. Tak lama pengikut setianya, Agel menampakkan dirinya di belakang Domain. Peluh membasahi baju mereka berdua. Dua orang serdadu persahabatan. Yang satu unik dengan segala pemikiran uniknya, dan yang satu misterius dibalik badan besarnya.

“Sudah sembuh, Dan. Fabulous,” ucap Domain tanpa meninggalkan kata-kata anehnya. Ia mendekatiku dan menepuk keras bahu kananku.

Aku sebenarnya merasakan sakit karena tepukannya. Tapi semua tertutupi oleh rasa senang karena kedua orang unik ini datang menjenguk. Dua orang yang memberi warna berbeda dalam kehidupanku. Dua orang yang selalu muncul dengan hal-hal yang membuatku terhibur dan tertawa.

“Cepatlah sembuh. Kau akan kutraktir makan mie ayam kesukaanmu. Ku belikan empat mangkuk sekaligus. Tapi,…” dengan gaya ekpresionisnya Domain terus meracau seperti burung kutilang diperlombaan kicau burung.

Kata tapi yang sengaja dijeda Domain sudah pasti memiliki makna yang kurang masuk akal.

“Tapi,… kalau tidak bisa kau habiskan. Kau bayar sendiri saja mie ayamnya. Sisanya biar kami berdua yang menghabiskan. Ha.. ha..” ia menyambung perkataannya. Seperti yang kutebak sebelumnya, sudah pasti tak masuk akal dan oportunis.

Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan Domain. Apa yang dilakukan Domain tak lain untuk membuat lebih bersemangat.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan