Berlari bersama mimpi Bagian 12

Nenek Hayati, itulah nama yang tersemat pada wanita tua itu. Setidaknya begitulah beberapa orang di pasar ini memanggilnya. Kata orang umurnya sekitar limapuluh delapan tahun, sedikit meleset dari perkiraanku. Kata orang, dia anak seorang pejuang gerilyawan kemerdekaan tempo dulu. Nasibnya  kinipun tak jauh berbeda, masih penuh perjuangan seperti orang tuanya. Perjuangan melanjutkan hidup di tengah himpitan nasib payah pengiring hidup.

Kata orang, ia hidup di sebuah gubuk lingkungan kumuh dekat jembatan besar. Ia hidup sendiri. Memungut beras sisa yang berhambur di lantai gudang. Memakan lauk rumput-rumput di tepian sungai yang tak ku ketahui namanya. Tiap malam dari dalam rumahnya terdengar suara ringisan perih menyayat hati. Mungkinkah ia sedang didera sakit yang biasa menghinggapi para orang tua. Mungkinkah ia kini menderita penyakit Parkinson seperti yang pernah kulihat dari gemetar tangannya. Atau mungkin ia menderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik akibat asap-asap hitam pekat kendaraan bermotor dan pabrik kayu lapis di selatan sana.

Yang pasti, hampir setiap hari aku memperhatikan Nek Hayati. Memperhatikannya yang selalu duduk di dekat gudang beras untuk memungut beras yang tercecer di lantai. Memperhatikan gurat wajahnya yang semakin nampak. Percampuran antara gurat penuaan dan gurat beban hidup yang dilalui. Sorot matanya tak sedikitpun berubah, masih saja sayu dengan wajah nyaris tak berekspresi.

Sejak beberapa hari lalu aku membagi dua tabunganku. Membagi dua recehan perak yang tiap hari ku dapat. Sebuah keinginan kecil dari seorang anak berumur hampir sepersepuluh umur Nenek Hayati. Aku ingin membelikannya sekantong plastik beras. Aku tak sampai hati melihatnya harus memakan nasi bercampur pasir. Dalam iklan kesehatan yang pernah ku lihat di televisi, disampaikan oleh dokter yang kemungkinan berpakaian warna putih. Dokter itu pernah mengatakan, jika kita memakan makanan yang tidak sehat, kita akan mudah diserang penyakit. Pesan dari dokter berbaju putih itu terus berdenging di telingaku. Apa lagi jika mengingat perkataan orang mengenai keadaan Nenek Hayati, keinginanku semakin bulat untuk menolongnya.

***

Saat uangku telah terkumpul banyak, aku memutuskan untuk memberikan sekantong plastik beras pada Nenek Hayati. Aku melangkah ke penjual beras, membeli beras yang saat itu ku anggap paling bagus. Aku membeli sekitar tiga liter beras. “Ini beras mutiara, Nek. Beras paling bagus kata orang-orang,” ucapku dalam hati ketika membeli beras itu.

Begitu beras sudah kubeli. Aku melangkah ke gudang tempat Nek Hayati biasa duduk. Sudah lebih dari empat hari ini aku tidak memperhatikannya. Aku berusaha mengumpulkan receh lebih banyak hingga tak sempat ke sana. Aku benar-benar bahagia bisa melakukan ini. Bisa berbagi sesuatu dengan orang-orang yang jauh lebih malang nasibnya dariku. Apa lagi aku tidak memiliki orang tua. Aku sempat diperalat oleh beberapa gelandangan untuk mengemis di pinggiran jalan. Tak ada sedikitpun gambaran di dalam ingatanku siapa sebenarnya orang tuaku. Nyaris tak ada secuil pun.

Begitu sampai di gudang itu, aku tak melihat Nenek Hayati duduk di tempatnya. Mungkinkah aku terlambat datang hingga ia telah pulang lebih dulu. Aku masih mencoba mencari-cari dimana keberadaan Nek Hayati. Mungkin saja dia duduk di sisi lain gudang ini. Namun, tak secuil anggota badannya pun nampak di sana. Mungkin aku benar-benar terlambat datang ke tempat ini.

“Mencari apa, Nak?” Sebuah pertanyaan yang tiba-tiba mengangetkanku.

Aku membalikkan badan ke arah asal suara itu. Pemilik gudang yang biasa disapa Pak Haji ternyata berdiri di belakangku. “Cari…” aku sedikit kebingungan karena terkejut.

Pak Haji memasang mimik muka penuh tanda tanya. Ia sepertinya tertarik dengan hal yang sedang ku cari.

“Cari….. ne.. Nenek Hayati, Pak,” jawabku  terbata-bata.

“Oh.., bapak beberapa hari ini tidak melihat Bu Hayati. Kamu keluarga Bu Hayati?”

“Bukan, Pak. Ingin memberikan ini.” Aku tak terlalu bisa merangkai kata.

Pak Haji memperhatikan kantong plastik yang ku bawa. “Kalau kamu mau, coba saja datangi ke tempat tinggalnya.”

“Dimana, Pak?” aku sama sekali tak tahu lokasi pasti tempat tinggal Nenek Hayati.

Pak Haji memandang ke kumpulan tukang ojek yang sedang menunggu penumpang. “Bang!” teriaknya.

Seorang tukang ojek yang mengenakan topi menolehkan wajahnya. Tangannya menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. Memastikan apakah dirinya yang dimaksud Pak Haji. Pak Haji hanya mengangguk pelan dan menggerakkan tangannya. Menyuruh tukang ojek mendekat padanya.

“Ada apa, Pak Haji? Ada beras yang mau diantar?” tanya sang tukang ojek ketika sudah dekat.

“Kamu tau rumah Bu Hayati kan? Katanya tak terlalu jauh dari rumahmu.”

“Tau, tau, Pak. Bapak mau apa mencari Bu Hayati?”

“Tolong antarkan anak ini. Katanya mau mencari Bu Hayati. Sudah lama dia tidak ke tempat ini.”

“Wah, yang saya dengar Bu Hayati sering sakit-sakitan, Pak. Sudah sejak masih muda kata orang-orang yang mengenalnya.”

Pak Haji sedikit kaget. Ia merasa agak bersalah. Jika saja ia tahu kondisi Nek Hayati. Mungkin ia akan memberikan beras yang lebih layak setiap hari. Aku naik ke atas motor setelah di suruh tukang ojek. Saat kami sudah bersiap berangkat, pak haji tiba-tiba menyuruh kami menunggu.

“Tunggu sebentar” Pak Haji masuk ke dalam. Entah untuk apa ia menyuruh kami berhenti.

“Tolong berikan ini pada Bu Hayati,” kata Pak Haji saat menyerahkan sekantong bahan makanan. Ia juga menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat buram.

Sang tukang ojek yang diserahi amanah hanya mengangguk pelan. Kami kemudian berlalu meninggalkan gudang beras milik Pak Haji. Gudang beras yang menjadi lumbung makan Nenek Hayati hampir sejak enam bulan yang lalu.

Sekitar limabelas menit kemudian aku sampai di sebuah perkampungan tempat tinggal Nenek Hayati. Perkampungan ini tak lebih dari kumpulan gubuk tua yang menyedihkan. Rumah-rumah kumuh yang dipandang merusak wajah kota. Di tempat seperti inikah Nenek Hayati tinggal. Pantas saja ia begitu mudah terserang penyakit.

Motor yang ku tumpangi berhenti di sebuah gubuk tanpa jendela. Gubuk berdindingkan triplek lapuk yang sudah koyak di sana-sini.  “Ini rumahnya Bu Hayati,” kata sang tukang ojek.

Aku turun. Tak bicara sepatah katapun. Hanya memandangi pintu rumah Nek Hayati yang tak simetris. Sedikit celah terlihat akibat bentuknya yang tidak simetris itu. Sang tukang ojek mengetuk pintu rumah. Satu, dua, hampir tiga kali ia mengetuk sampi akhirnya pintu itu bergerak.

Saat pintu terbuka. Raut wajah tua Nek Hayati menyambut kami. Senyum sebenarnya ia usahakan merekah di bibirnya. Tapi senyum itu tersamarkan oleh  gurat-gurat wajahnya.

“Ada apa, Pak?” tanyanya dengan suara lirih.

“Ini, Bu. Anak ini katanya ingin menemui ibu,” jawab si tukang ojek itu sambil memegang bahuku.

Nek Hayati memandang tajam padaku. Matanya yang kabur digerus usia sepertinya begitu sulit difokuskan. “Anak siapa ini?,” tanyanya lagi.

Aku tidak menjawab. Aku sama sekali tidak mempunyai jawaban pertanyaannya.

“Ini juga ada kiriman dari pemilik gudang beras yang biasa ibu singgahi.” Tukang ojek itu menyerahkan sekantong bahan makanan dan amplop berwarna coklat muda pada wanita tua itu. “Sedikit rejeki untuk ibu dari beliau,” lanjutnya.

Nek Hayati menyambut barang pemberian itu. “Pak Haji seharusnya tidak perlu memberikan saya barang ini. Menyusahkan beliau.”

“Saya cuma menyampaikannya, Bu. Beliau benar-benar ingin memberikannya pada ibu,” jelas tukang ojek.

“Nek,” kataku tiba-tiba.

Wanita tua itu memalingkan wajahnya padaku. Aku bingung menafsirkan perasaanku saat menatap wajahnya. Antara iba, kasihan atau apa.

“Ini.” Aku langsung menyodorkan kantong plastik berisi beras yang kubeli dari tabunganku.

Wanita tua itu diam. “Apa ini, Cu?” Wanita tua itu memanggilku Cu. Memang umurku saat ini masih terbilang ingusan.

Aku tak menjawab. Tanganku masih menyodorkan kantong plastik berisi beras itu padanya. Aku tak mampu merangkai kata untuk menyampaikan maksudku.

“Terima saja, Bu.” Si tukang ojek itu tiba-tiba menimpali. “Anak ini sudah mencari-cari ibu di gudang milik Pak Haji,” tambahnya.

Wanita tua itu tersenyum. Ia tak segera mengambil bungkusan plastik itu dari dari tanganku. Ia malah mengusap-usap kepalaku dengan tangannya. “Terima kasih, Cu. Nenek tidak tahu kamu ini anak siapa,” katanya sambil tersenyum samar.

Ia akhirnya mau menerima pemberianku. Sejak hari itu aku sering berkunjung ke rumahnya. Sekedar membantu memasakkan makanan saat ia terserang sakit. menggantikannya membersihkan rumahnya. Hingga akhirnya aku benar-benar tinggal di rumahnya. Saat itulah pertama kali aku merasa memiliki orang tua.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan