Berlari bersama mimpi Bagian 11

Aku tak tahu harus kemana. Yang ku tahu, hidupku sudah menggelandang seperti ini. Aku mencoba berlari-lari, berharap menemukan sesuatu di pemberhentianku. Sayang, masih tak ada sedikit pun yang ku temukan. Aku mencoba mengiringi seseorang, berharap ia mau memberikan ku sesuatu. Tak sedikitpun ia menoleh, hanya cibiran yang keluar dari mulutnya. “Dasar anak gelandangan.”

Aku terus mengikutinya. Tak sedikitpun cibiran itu membuatku terhina. Akal ku masih belum mampu menterjemahkan cibiran orang itu. Umurku masih enam tahun, belum mencapai aqil baliq. Kinerja otakku masih belum menjangkau hal-hal yang dipermasalahkan orang-orang yang sudah tua. Dengan kaki lincahku, aku terus mengikutinya. Meskipun terdapat perbedaan dalam jangkauan langkahku. Satu langkahnya hampir sama dengan dua langkahku.

Orang itu berhenti, membalikkan badannya ke arahku. Matanya memandang tajam. Gurat-gurat di sekitar matanya menambah tajam sorotannya. Ia merogoh saku celana sebelah kiri. Mencari-cari sesuatu, mungkin saja sekeping receh.

Benar saja, sebuah uang receh seratus perak ia lemparkan begitu saja ke tanah. “Ambil itu. Lepaskan tanganmu.” Begitu ketus tutur katanya.

Aku memungut uang receh yang tergeletak di tanah. Ku sapu uang receh yang berlumur tanah hitam itu dengan baju. Uang receh seratus perak berukuran agak besar. Embos rumah gadang berada di salah satu sisinya, sedikit lebih tua dari yang berembos wayang. Aku tersenyum puas. Uang ini cukup untuk membeli kue yang bisa mengganjal perutku.

Dengan senyum penuh kemenangan aku kembali melangkahkan kaki. Mencari penjual kue basah yang biasanya sering berjualan di sekitar tempat ini. Hari ini aku boleh sedikit congak. Aku tak perlu lagi memohon dan mengiba pada penjual kue itu. Kali ini aku membawa uang yang cukup untuk membeli dua kue sekaligus. Untuk makanku pagi ini dan satunya untuk nanti siang.

***

Aku berdiri di antara los-los pasar. Menatap muka beberapa pembeli yang tampak begitu tamak. Memborong banyak barang secara berlebihan. Ah! Buat apa aku memikirkan hal itu, toh mereka tak ada hubungannya denganku.

Di tempat inilah aku biasa menghabiskan waktu. Berdiri mematung, mengharap rasa iba dari pembeli yang melewati. Memberikan duapuluh lima perak dari kantong belanja mereka. Berdiri di antara los ikan dan sayur-sayuran. Sejak pagi sampai pukul duabelas siang berdiri ditemani bau amis menyengat ikan laut bermata bulat besar. Sesekali cipratan air dari penjual ikan yang bermaksud mengusir lalat mengenaiku. Menambah lengket aroma amis dari laut.

Tak jarang aku menjual kantong plastik besar hasil simpanan uang tiap hari. Berkeliling menjajakannya pada ibu-ibu yang kerepotan membawa begitu banyak belanjaan. Tak jarang pula ikut membawa barang belanjaan sampai tempat parkir di depan. Semua ku kerjakan, demi mengumpulkan rencengan perak yang lebih dari setengahnya biasa ku tabung. Mungkin saja uang ini bisa kumanfaatkan jika sudah terkumpul banyak.

“Plastik bu? Plastik?” Hanya kata-kata itu yang sering keluar dari mulutku. Aku tak banyak bicara. Selain usiaku yang masih muda, kondisi kurang gizi juga memberi andil lemahnya daya nalar dan keaktifan gerak tubuhku. Sudah sering plastik yang kutawarkan diambil begitu saja tanpa dibayar. Aku sebenarnya ingin berteriak meminta pembayaran, entah mengapa lidah ku tak mampu menyampaikan maksud hatiku. Aku hanya bisa diam, tak berdaya. Apa lagi jika para preman pasar tak berbudi mengambil paksa rencengan perakku. Tak ada yang bisa kuperbuat,  hanya bisa berontak kecil, hingga akhirnya tersungkur kalah oleh tangan-tangan besar mereka.

Aku tak sendiri di pasar ini. Begitu banyak populasi lainnya yang membentuk berbagai simbiosis. Entah itu simbiosis mutualisme ataupun simbiosis parasitisme. Sebuah ekosistem pasar yang memberlakukan sebuah hukum. Hukum paling dasar yang sejak dulu ada, hukum alam, siapa yang kuat dia yang berkuasa. Itulah mekanisme yang menutupi kegiatan di pasar ini. Jika tak mampu bertahan, kami akan diinjak-injak oleh yang lebih kuat. Sejarah sudah membuktikan itu.

Kadang aku berada dalam lingkar simbiosismutualisme, aku bisa menabung lebih banyak. Namun tak kalah sering, aku harus bertahan hidup dalam lingkar simbiosis parasitismejika harus berhadapan orang yang tak tahu diri dan para preman tak berbudi. Lazim, kata itulah yang pada akhirnya harus kukatakan setelah mengalaminya sendiri.

Tak ada arti sedikitpun kalau aku harus mengadu, entah kepada polisi atau orang yang mengaku bertanggung jawab di tempat ini. Setiap pengaduan hanya sebatas formalitas picisan. Sekedar  berakhir pada coretan hitam di atas kertas buram. Selebihnya, tak sedikitpun upaya terlahir darinya. Buang-buang tenaga jika aku harus mengadu. Lebih baik memikirkan bagaimana cara agar bisa mengakali preman-preman tak berbudi itu.

Jika aku terpikir mengenai masa depan. Saat melihat acara di televisi hitam putih yang di letakkan di bagian depan pasar. Melihat adegan seseorang dari golongan berdasi mengejar asanya menjadi orang sukses. M-I-M-P-I-!. Huruf-huruf itulah yang langsung terangkai di dalam benak. Ya! Itu cuma adegan yang direka oleh orang bertopi miring mirip tentara. Mereka hanyalah kumpulan orang berdasi yang berpura-pura menjadi seperti kami. Begitu mudah mereka mencapai asa karena tak pernah menjadi seperti diriku dan orang-orang lainnya.

***

Di sudut lain pasar ini, seorang wanita tua hidup tak kalah menggelandang sepertiku. Kata tua sepertinya cocok jika melihat bagaimana kondisinya. Rambutnya sudah mulai menguban di beberapa tempat dan tak rapi. Pakaiannya kebaya seperti para wanita tua kebanyakan. Lusuh dan beberapa robekan kecil menghiasi. Matanya yang sayu, berona patah arang mengukuhkan nasib tragis yang dialaminya.

Setiap menjelang siang. Perempuan itu duduk di dekat sebuah gudang beras yang tak begitu jauh dari tempatku berdiri. Di sana ia duduk, menanti dengan penuh kesabaran para kuli serabutan pengangkut karung beras selesai memindahkan beras dari truk ke gudang. Di tangannya, telah siap sebuah cedok dari plastik berwarna hijau dan kantong plastik kumal berwarna hitam. Setiap kali kuli angkut karung lewat, ia mengedar pandang ke tempat yang mereka lalui. Beberapa karung sepertinya menjatuh butiran-butiran beras di lantai gudang. Matanya yang sayu menatap dalam butiran beras itu.

“Berasnya sudah dipindahkan semua, Pak Haji,” kata seorang kuli angkut yang membawa karung beras terakhir.

“Ya, ya, nanti uangnya saya kirim langsung ke gudang. Ini, uang rokok untuk kalian.” Seseorang berbaju dan kopiah serba putih menghampiri kuli itu sambil menyerahkan beberapa lembar uang.

“Terima kasih, Pak Haji. Saya mohon diri dulu.” Kuli itu menyalami tangan orang yang dipanggilnya Pak Haji itu, kemudian berlalu. Naik ke atas bak truk dan menjauh dari gudang.

Wanita tua itu memandangi beras-beras yang berhamburan di lantai gudang. Begitu truk pengangkut karung beras itu menjauh, ia mulai bangkit dari duduknya. Melangkah cepat ke dalam gudang. Aku ikut mendekat ke arah gudang. Berhenti untuk berdiri di dekat pintu, memperhatikan apa yang akan dilakukan wanita tua itu.

Beras-beras yang tercecer di berbagai tempat ia kumpukan di tengah. Ia memunguti beras-beras bercampur pasir di lantai dengan cedok yang dibawanya. Sesekali ia menggoyang-goyangkan cedok, memisahkan pasir dari kumpulan beras. Plastik kumal berwarna hitam dibukanya, ia masukkan beras yang sudah berusaha ia bersihkan. Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan beras kotor itu ke dalam kantong plastik.

Pemilik gudang ini sama sekali tak menyuruhnya keluar. Ia hanya duduk di meja yang sengaja dijadikan sebagai meja kasir. Ia membalik-balikan lembaran koran yang mungkin saja sudah ia baca tadi pagi. Lantunan lagu dangdut dari stereo tip menemani setiap gerik matanya ketika membolak-balik lembaran koran.

Wanita tua itu berhenti memungut beras. Tak mungkinia mengambil beras yang tersisa di lantai, sudah terlalu kotor untuk ia pungut. Ia mengangkatnya dengan cedok dan memasukkan sisa beras kotor itu ke dalam bak sampah. Begitu wanita tua itu akan beranjak meninggalkan gudang, pemilik gudang memanggilnya.

“Bu.” Panggil orang itu halus. Umurnya mungkin sekitar empatpuluh tahunan

Wanita tua itu berhenti melangkah, menoleh ke arah asal suara. “Ada apa pak?” Suaranya terdengar ringkih.

“Ini ada sedikit beras yang lebih bersih daripada yang tadi ibu pungut.” Pemilik gudang itu tersenyum, menyerahkan sekantong plastik besar berisi beras.

“Tidak usah, pak. Ini sudah cukup. Bapak mengijinkan saya memungut beras ini, saya sudah berterima kasih banyak.” Ia menolak dengan halus pemberian sang pemilik hudang.

“Tolong, Bu. Tolong terima. Ibu sudah sering kali menolak pemberian saya. Tolong, kali ini saja, Bu.”

Wanita tua itu terdiam sejenak. “Terimakasih, Pak. Lain kali bapak tidak perlu repot-repot seperti ini. Saya cukup beras yang di lantai ini saja.” Wanita itu perlahan menerima bungkusan beras dari Pak Haji. Tangannya agak gemetar akibat pengaruh umur.

“Tidak apa-apa, Bu. Saya justru merasa tidak enak jika Ibu harus memakan beras bercampur pasir seperti itu.” Pak Haji itu mungkin tak seperti kelihatannya. Di samping sifat diamnya, sebenarnya ia terus memperhatikan wanita tua yang umurnya ku taksir sekitar enampuluh tahunan.

Wanita tua itu melangkah gontai meninggalkan gudang. Perih rasanya melihat wajah sayunya. Beban hidup nan berat sudah begitu banyak ia lalui. Langkah kaki seret mengantarkannya menjauh meninggalkan pasar ini. Aku terenyuh. Meski umurku saat ini masih sekitar enamtahun. Aku bisa mengerti bagaimana beban hidup wanita tua itu. Sendal jepit tua yang sudah menghitam dan tipis termakan aspal melintar di kakinya. Ia terus menjauh, hingga akhirnya menghilang di antara kerumunan pembeli.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan