Berlari bersama mimpi Bagian 10

Langit berubah temaram saat matahari berpendar beberapa saat. Cendawan awan hitam menutupi  lengkung langit dengan perlahan. Menyingkirkan pancaran matahari yang sebelumnya bersinar dengan gagah tanpa halangan. Di sini, aku dan puluhan warga penghuni lingkungan kumuh ini menatap tajam jalur masuk utama. Tak sedetik pun kami mengalihkan pandangan. Mengedar pandang mengawasi seperti elang hitam yang mengawasi mangsa dari udara.

Lingkungan ini telah temaram jauh sebelum mendung menghampiri. Hati dan perasaan kami semua sudah gemetaran, tertutupi tubuh yang diteguh-teguhkan. Sebuah surat buram kekuningan berstempel dan tanda tangan orang berkuasa telah meneror diri kami sejak tadi malam. Kami sebenarnya gemetaran, ketakutan. Tapi kami tutupi dengan keinginan untuk hidup, keinginan untuk bertahan. Apa lagi yang kami miliki jika kami harus menyerah saat ini. Menyerah pada petugas-petugas eksekusi yang digembor-gemborkan berwajah bengis dan bertindak kejam. Menyerah pada kuasa yang ingin meruntuhkan rumah-rumah yang sudah begitu lama kami tinggali.

Di surat temaram itu jelas tertulis. “Waktu eksekusi : 23 Mei 2000, pukul 15.00 WITA.” Sebuah cambuk yang mampu mencabik-cabik hati dan perasaan kami. Meskipun tempo itu masih lama, sekitar tiga jam lagi, kami semua sudah bersiap. Bersiap untuk mempertahankan apa yang menjadi hak kami. Mempertahankan satu-satunya hak yang kami miliki dari sekian banyak hak-hak yang telah dirampas dari kami. Kami siap bertahan dengan apapun, cara apapun, kami siap kalap. Kami siap dengan kondisi apapun yang mungkin akan menghadang kami.

Kami memang kalah dibanding kekuasaan para orang berdasi itu. Kami tak punya kemampuan untuk membuat secarik kertas sebagai tanda kekuasaan kami atas tanah dan bangunan ini. Kami memang kalah secara hukum yang mereka agung-agungkan itu, kalah total. Tak sedikitpun bukti-bukti autentik yang sah secara hukum yang bisa menolong kami. Hanya semangat untuk menjaga milik kami yang menjadi sumbu pembakar kekuatan kami,tak lebih. Memang sebuah ironi bagi kami.

Sejak tadi malam warga bergantian berjaga, bergantian lima sampai tujuh orang. Berpatroli di seputar lingkungan rumah. Mengantisipasi kebiasaan buruk orang berkuasa yang berbuat curang meski sudah menang dengan kecurangan. Dengan sebilah parang atau potongan bambu yang menggantung di lingkaran pinggul beberapa warga menjaga daerah ini. Bersiap dengan kondisi terburuk sekalipun yang mungkin akan menjemput.

Langit semakin temaram, ditambah embusan deras angin. Giliran ku berjaga bersama lima orang warga lainnya. Potongan bambu berwarna hijau tua melintang di belakang punggungku. Persis seperti ninja di film-film action negeri tirai bambu. Aku memang masih terlalu muda untuk hal ini. Tapi, dorongan untuk melindungi tempat ini dan rumahku sendiri menyingkirkan setiap poin asas kepatutan yang berlaku.

Aku menjaga jalur utama lingkungan ini, bersama seorang bapak berumur hampir 56 tahun. Di pinggangnya tersarung sebilang parang berukuran agak besar. Tangannya yang menonjolkan urat-urat besar masih terlihat cukup kuat untuk menebaskan parang itu, setidaknya delapan sampai sepuluh kali. Hampir 98% umurnya telah dihabiskan di tempat ini. Tak ada alasan baginya untuk meninggalkan tanah ini karena ia sendiri yang telah membelinya dari seorang tuan tanah pada masa belanda dulu. Karena ketidakmampuan finansial lah yang membuat dirinya tak bisa mengurus akta tanah yang di besar-besarkan itu. Suatu hal yang akhirnya menyeret kami pada masalah yang begitu besar, penggusuran.

“Tanah dan rumah ini akan tetap ku jaga walau bagaimana pun juga. Aku sudah membelinya. Apa! Mentang-mentang punya uang. Mentang-mentang punya kuasa!” Bapak yang menemaniku berjaga sudah benar-benar naik pitam. Mungkin jika barisan penggusur itu datang, beliaulah yang pertama kali menghalangi.

Aku tak berani menimpali apa yang dikatakannya. Takut salah kata. Sungguh tak cerdas jika nantinya bapak itu malah marah-marah padaku karena salah bicara. Lebih baik aku fokus pada tugasku. Apa lagi jam penentuan nasib kami dan rumah-rumah kami akan segera tiba. Meskipun rumah yang ku tempati bukanlah milikku. Setidaknya aku ingin menjaga rumah peninggalan perempuan tua yang telah merawatku ini. Hanya itu yang bisa kulakukan sebagai balas jasanya.

“Tanah ini milikku, bukan mereka. Mereka hanya memanfaatkan keadaan. Membuat akta yang belum bisa ku pinta pada pejabat-pejabat tanah itu.” Di matanya begitu tampak sesuatu, mungkin saja amarah. Secara naluriah setiap orang pasti akan marah jika diambil hak kepemilikannya secara tidak lazim.

Aku hanya memperhatikan ke arah bapak itu. Takada secuil pun timbul keberanianku untuk mengikuti pembicaraannya. Aku tak terlalu mengerti mengenai duduk perkaranya. Aku cuma berpegangan dengan niatan untuk menjaga perkampungan kami ini. Tanah ini memang cukup luas, berada tak begitu jauh dari jalur lingkar. Setidaknya cocok untuk menjadi gudang penyimpanan barang-barang komoditi pasar. Pelabuhan tak terlalu jauh dari sini, ongkos pengiriman akan lebih hemat.

“Nak, tolong ambilkan teko air minum di pos ronda. Udara begitu lembab, setidaknya bisa mengurangi rasa kering ditenggorokan,” pinta Bapak itu padaku.

Aku hanya mengiyakan dengan menganggukkan kepala, segera berjalan ke pos ronda. Lembab memang udara saat ini, akibat pergantian terik matahari dengan mendung menggumpal. Langit begitu temaram, bersedih. Ia sepertinya menerka akan terjadi sesuatu yang kurang baik hari ini. Ah! Sudahlah. Aku tak gentar, tak gentar karena kami di pihak yang benar.

Begitu sampai di pos ronda. Aku mengambil teko minuman dari tembaga. Di dalamnya masih tersisa seperempat karena diminum warga lain yang ikut berjaga. Aku segera kembali mengantarkan teko ini pada bapak yang berjaga di depan. Saat aku berbalik, aku melihat Didi yang melintas mengayuh sepeda kecilnya. Tampaknya ia tetap bersekolah hari ini.

“Di!,” panggilku saat Didi melintas.

Didi menghentikan sepedanya. Memutarkan kepalanya ke arahku. “Ada apa, Bang?” tanyanya ketika berhenti.

“Hari ini masuk sekolah? Tolong sampaikan pada guru di kelas abang, abang tidak masuk hari ini. Abang ada kesibukan. Sampaikan seperti itu,” pintaku pada Didi.

“Iya, Bang.” Ia membalikkan badan. Kembali mengayuhkan sepeda kecil meninggal perkampungan ini.

Sebenarnya aku juga ingin masuk sekolah. Tapi, hari ini adalah hari yang benar-benar kritis bagi kami semua. Hari ini ku kesampingkan dulu hasratku untuk menuntut ilmu. Derik jam penghakiman hak kami semakin terdengar jelas. Jika kami tidak bertindak seperti ini, sama saja kami dengan sukarela menyerahkan tanah ini. Membuat senyum lebar merekah di wajah orang yang begitu bobrok etikanya, orang yang merampas hak milik kami.

Begitu sampai di depan, aku melihat bapak yang menemaniku berjaga itu berdiri, tegang. Wajahnya seperti menyeringai melihat tiga buah buah mobil pick-up hitam yang mengangkut puluhan petugas eksekusi. Bukankah terlalu berlebihan, mengirimkan puluhan petugas eksekusi untuk mengusir kami dari rumah kami sendiri. Seperti inikah arti keadilan yang telah terbeli dengan uang.

“Panggil yang lain! Pukul tiang! Pukul! Panggil yang lain.” Bapak itu mulai meracau.

Aku berlari, melepaskan teko air yang terjatuh di tanah merah. “Tong! Tong! Tong! Tong! Tong! Tong!” Aku memukul-mukul tiang listrik yang berada tak jauh dari tempat ku menjatuhkan teko air.  Aku benar-benar gugup, terus memukul-mukul tiang listrik, memanggil sebanyak mungkin warga untuk berkumpul di depan.

Seperti terjadi sebuah kebakaran hebat. Warga berduyun-duyun menuju jalur utama keluar masuk perkampungan kami ini. Mereka membawa beberapa potong kayu dan bambu. Beberapa membawa parang yang tersempir di pinggang kanan. Mereka seperti seperti orang-orang yang mau berperang dengan para eksekutor penggusuran itu.

Tak lama, hampir seluruh warga sudah terkumpul di sini. Aku seperti melihat kejadian bersejarah di wales puluhan tahun lalu. Aku seperti melihat orang-orang Normandia yang dipimpin oleh William Sang Penakluk yang akan menyerang Raja Harold di Hasting. Tapi ini nyata. Ini jauh terlalu nyata. Di depan ku memang berkumpul puluhan orang yang siap berperang. Berperang melawan ketidakadilan dan kesewenangan yang hendak menindas kami.

Seorang pria berbaju kerah warna putih maju. Tangannya menenteng seberkas map berwarna biru luntur. “Mana pimpinan warga di sini? Mana?” Wajahnya tampak congak ketika mencari Ketua RT perkampungan ini.

Kerumunan warga tampak ricuh. Ada yang mencela, mencomooh pria berbaju putih yang tampak congak itu. Di antara kerumunan warga berjalan seorang pria paruh baya yang maju ke depan, berjejal di antara kerumunan warga.

“Saya. Saya ketua RT di sini. Apa mau kalian!” Pria paruh baya itu mencoba bersikap demikian kecut.

“Kalian sudah diperingatkan sebelumnya. Kosongkan tempat ini. Ini bukan tanah kalian lagi. Paham!” Pria berbaju putih itu semakin bersikap tidak etis.

“Tanah ini milik kami. Bukankah pengadilan belum memutuskan kalau tanah ini milik kalian?”

“Pengadilan sudah memutuskan. Buat apa berlama-lama. Tanah ini memang milik kami. Pengadilan tak perlu repot-repot memutuskan segala.” Pria berbaju putih itu mengibas-ngibaskan map birunya ke arah Pak RT, mencemooh.

“Ah! Jangan banyak bicara!” Tiba-tiba seorang warga yang berada di depan benar-benar telah tersulut amarahnya memukul tangan pria berbaju putih itu. Map biru yang dipeganginya terhambur di udara, tercecer di tanah.

Pria berbaju putih itu hampir terjatuh. Wajahnya kini menyeringai, seperti singa yang akan menerkam mangsanya. “Berandaaal! Berandal kalian semua! Tidak tahu diri.” Ia mencak-mencak seperti kesetanan. “Berandaaall!”

Seketika amarah sebagian besar warga tersulut, mereka mencoba menyerang pria berbaju putih itu. Beberapa warga yang masih mampu berpikir normal mencoba menghentikan apa yang akan dilakukan warga lainnya. Melihat keadaan yang tak kunjung membaik, bahkan semakin kacau, beberapa petugas yang sebelumnya masih duduk tenang mulai turun dari mobil pick-up. Di tangan mereka sudah siap pentungan berwarna hitam yang dapat membuat gegar otak jika dipukulkan ke kepala kami. Beberapa orang di antara mereka berwajah sangar, tak kalah dibanding Bang Mik dan komplotannya.

“Kalian itu tak punya malu. Kosongkan tempat ini, atau kalian mau kami yang mengusir! Dasar sampah!” Pria berbaju putih itu masih sempat melontarkan makian dalam keadaan genting seperti ini.

“Kami tidak akan pergi dari tempat ini!”… “Ini tanah kami!”… “Jangan berlagak kuasa!”… ”Ya! Lebih baik kalian enyah dari sini!.” Warga mulai membalas makian itu begantian, menambah kericuhan yang makin menjadi.

“Sampah! Kalian itu tak berguna! Kalian mati pun tak ada artinya! Ya, lebih baik kalian mati, paling tidak kota ini akan terlihat lebih bersih jika kalian tak ada! Berandaaal!.”

Keadaan semakin keruh. Mungkin tinggal menungggu detik meledaknya bom amarah warga. Aku benar-benar berada di tempat yang mencekam. Tempat ini tak kurang dari Panama sewaktu digempur Amerika Serikat. Benar-benar mencekam. Wajah warga maupun petugas eksekusi berseragam yang memegangi pentungan sama-sama merah padam. Mungkin saja akan sebentar lagi akan terjadi ledakan amarah yang paling tidak seperti ledakan Gamma. Ledakan yang mudah terjadi sepersekian detik. Ledakan yang akan membuat perkampungan kami ini menjadi medan perang. Perang antara kesewenangan dan semangat bertahan hidup.

Aku sebenarnya gemetaran. Berada di sebuah muara, muara pertemuan antara kehendak para orang berkuasa dan kehendak untuk mempertahankan hak. Bambu berukuran agak besar yang kupegangi benar-benar menginterpretasikan diriku. Bambu itu terlihat tak tegak, bergetar hebat. Badanku bergetar sekitar 2,4 skala richter jika mengikuti usul ahli seismograf kelahiran Ohio, Amerika Serikat, Charles Richter.

Hatiku terbelah dua. Separuh berkata agar aku tetap di sini, separuhnya lagi berteriak-teriak keras di telinga, menyuruhku lari.Ah! aku terlalu muda untuk hal seperti ini, aku masih terlalu muda. Aku juga ingin hidup bermanja-manja seperti kebanyakan anak lainnya. Aku mulai merasa seperti orang gila. Akal ku mengalami disfungsi. Keadaan tertekan seperti ini memang terbukti ampuh membuat banyak orangmengalami stress stadium tiga. Paling tidak dibuktikan dengan banyaknya kasus bunuh diri, alasannya, tekanan hidup.

“Saya beri waktu lima belas menit. Cepat bawa barang-barang sampah itu! Kalau tidak, semua akan saya ratakan dengan tanah!” Sebuah bentakan kembali membelah kericuhan warga. Bentakan yang benar-benar mengintimidasi.

Kericuhan semakin menjadi. Tanpa diduga, seorang warga yang berada ditengah maju dan langsung mengambil map biru yang diagung-agung kan pria berbaju putih itu. Langsung merobek-robeknya dan membuangnya ke tanah.

Seketika suasana berubah drastis. Bom amarah itu kini telah meledak. Detonator sumber panas berupa penyobekan map benar-benar telah meledakkan bom. Pria berbaju putih itu sempat beberapa kali dipukul oleh warga. Ia behasil menjauh setelah belasan petugas eksekusi menyelamatkannya dan ganti memukul warga dengan pentungan. Adegan adu pukul dan beberapa sabitan parang yang telah terhampar di hadapan ku. Aku sendiri hampir beberapa kali jatuh akibat berdesak-desakkan di antara warga.

Dorong-dorongan disertai pukul memukul terus menjadi. Beberapa warga dan petugas eksekusi mulai menjadi korban. Kepala mereka tampak mengucurkan darah akibat pukulan benda keras. Seperti inikah bentrokan yang pernah terjadi dua tahun yang lalu. Di bulan yang sama namun, dengan skala yang lebih kecil. Aku juga ingin ikut bertindak, aku tidak mau warga perkampungan ini menjadi bulan-bulanan petugas eksekusi yang juga di dukung beberapa polisi.

Jeritan-jeritan dan teriakan lirih dari para wanita mengurung perkampungan ini. Di depan mata mereka para suami, kepala keluarga mereka beradu dengan petugas. Tangisan tak terelakkan dari diri mereka. Darah yang mengalir di dahi para suami mereka hampir membuat beberapa wanita pingsan. Anak-anak kecil yang tak selayaknya berada dan melihat kejadian ini, meraung-raung seperti kehilangan kembang gula dari tangan mereka. Kumpulan suara itu benar-benar memekakkan telinga. Mungkin saja bisa merusak membran timpani telinga ini.

Aku mundur ke belakang barisan warga. Tanganku mencoba mencari-cari batu yang biasanya berhamburan di jalan. Warga lain tampak ada yang mulai melempari petugas dengan batu-batu berukuran tempurung kura-kura berumur satu bulan. Mereka melempari batu membabi buta ke arah petugas. Aku ikut memungut batu dan melempari petugas. Tanganku seperti bergerak sendiri, terus melemparkan batu.

Petugas eksekusi jelas kalah jumlah dengan kami. Mereka mulai terdesak oleh dorongan warga. Mungkin saja kami bisa menjaga lahan dan tempat tinggal kami ini. Meski dengan kepala berlumur darah, warga tetap saja melakukan perlawanan. Nunc aut numquam, sekarang atau tidak sama sekali. Mungkin istilah itulah yang cocok bagi perlawanan kami sekarang. Jika kami tidak melawan, dengan begitu gembira mereka akan memporak-porandakan tempat tinggal kami. Apalagi mereka sudah bebal terhadap hukum. uang adalah the highness bagi para orang yang sewenang-wenang seperti ini.

“Dorr!!” Tiba-tiba seorang polisi yang berada di antara petugas eksekusi menembakkan pistol ke udara. Tak sedikitpun kericuhan berkurang. Telinga warga sepertinya sudah tak berfungsi lagi, tertutupi amarah yang sudah mencapai puncaknya. “Dorr!! Dorr!!” Pistol itu kembali memuntahkan peluru panas, bahkan dua kali.

Kericuhan sedikit berkurang. Beberapa orang yang sebelum melemparkan batu tercengang. Ada yang menutupi daun telinganya, bersembunyi di antara bilik-bilik rumah, bahkan terdiam tak bergerak sedikitpun. Pistol itu masih mengacung ke udara, menghantarkan radiasi panas akibat gesekan peluru dan larasnya. Tembakan pistol itu tidak sekedar peringatan bagi kami. Tembakan itu bisa jadi itu sebuah ancaman bagi kami. Bukankah dulu begitu marak penembakan-penembakan terjadi. Bukankah dulu begitu sering terjadi tindakan-tindakan represi dari beberapa oknum-oknum demikian. Akankah petugas penggusuran ini juga bersikap seperti itu, represif terhadap kami.

“Semuanya menyingkir! Jangan berbuat nekat dan melawan! Semua menyerah! Jangan ada yang melawan lagi!,” perintah seorang anggota polisi yang memegangi megafon.

“Ini tanah kami! Ini tanah kami!,” balas warga yang masih beradu dengan petugas eksekusi.

“Ini peringatan terakhir! Tinggalkan lahan ini atau kami akan menangkap orang-orang yang melawan!” Perintah itu semakin jelas mengintimidasi kami.

“Ini tanah kami! Ini tanah kami! Pergi kalian!” Lagi-lagi jawaban warga membuat petugas eksekusi naik pitam.

Tiba-tiba, asap putih menyebar di antara warga. Dua orang polisi yang ikut bertugas mengawasi eksekusi lahan ini menyemprotkan gas berwarna putih dari tabung berwarna hitam. Perlahan gas itu menyebar menyelimuti warga. Hasilnya, beberapa warga tampak berlarian sambil menutupi hidung mereka. Beberapa di antaranya bahkan menggosok-gosok mata dan terjatuh di tanah. Petugas yang sebelum beradu dengan warga serentak mundur, menjauhi asap putih pekat itu.

Asap itu mulai mendekatiku. Perlahan, merasuk ke dalam hidung, melarut diselaput lendir. Kemudian, gas asing itu merangsang silia olfaktori, membuat otak ini bekerja sekian berat. Nafasku mulai sedikit sesak, mataku mulai berair dan gatal. Inikah akibat gas putih pekat yang mereka semprotkan itu. Gas yang mereka sebut gas air mata. Gas yang mungkin pada akhirnya akan membuat kami semua menangis. Menangisi hilangnya tempat tinggal kami yang sebentar lagi akan mereka gusur.

Aku terjatuh, tersungkur di tanah. Mataku sedikit kabur akibat gas air mata itu. Beberapa juga tampak terjatuh di beberapa tempat. Namun, masih ada yang mencoba menghalangi petugas eksekusi yang akan kembali menjalankan tugasnya. Aku mencoba kembali bangkit, meski napasku agak berat, tak beraturan. Beberapa warga tampak ditangkapi beberapa petugas eksekusi. Diseret-seret tak berperikemanusian menuju pick-up hitam. Merek mencoba melawan, meskipun akhirnya terhenti oleh pukulan tangan-tangan besar petugas eksekusi.

Gerimis tiba-tiba mulai membasahi tanah dan tubuh ku. Perlahan, semakin cepat dan akhirnya berubah menjadi hujan yang lebat. Langit seperti bersedih melihat kami yang akhirnya kalah pada kekuasaan. Rintik hujan itu semakin deras, membasahi tanah merah tempatku tersungkur.

Aku mencoba berjalan ke arah rumahku sendiri, meski dengan tertatih-tatih. Aku ingin menyelamatkan beberapa barang milikku sebelum mereka ratakan dengan tanah. Paling tidak, aku bisa menyelamatkan beberapa buku yang dibagikan sekolah, menyelamatkan foto hitam putih perempuan tua yang telah mengasuhku. Hanya itu harta yang bisa aku selamatkan. Dengan tertatih-tatih, sempoyongan aku terus melangkah. Aku tidak ingin mereka merampas dan menghancurkan semua barang-barangberharga itu. Napasku yang sesak tak lagi ku hiraukan. Perhatianku saat ini hanyalah bisa kembali ke rumahku, mengambil barang-barang itu.

Di depan pintu rumahku berdiri seorang petugas yang menendang-nendang pintu rumahku. Aku mempercepat langkahku, melawan napas yang sesak dan mata yang pedih teriritasi. “Bang!,” teriakku pada petugas yang menendang pintu rumahku. Berharap ia menyingkir dari depan pintu rumah. “Ba.. bang!!” Suara ku sudah mulai parau.

Petugas itu sama sekali tak mengindahkan teriakanku. Ia masih saja menendangi pintu hingga akhirnya pintu terbuka. Aku berlari, mencengkram kaki petugas itu. Ia membalikkan badan, “BuKK!” tanpa belas kasih ia membuatku kembali tersungkur di tanah yang sudah digenangi air.

Petugas itu langsung meninggalkan ku yang tergeletak di tanah. Ia dan beberapa petugas lain mulai mendorong, mengusir warga lain yang masih berusaha bertahan di tempat ini. Aku berusaha untuk kembali berdiri meski pelipis kiriku mulai mengalirkan darah. Rasa pedih mulai menggerogoti saat terkena siraman air hujan. Aku masuk ke dalam rumah. Dengan memegangi pelipis kiri yang terus mengalirkan darah, aku mencoba meraih tas selempang yang isinya buku dan foto itu. Aku mendekap tas itu. Mataku kini meneteskan air mata, begitu pedih keadaan yang ku alami saat ini. Bersama tetesan air hujan, aku benar-benar terhanyut dalam kepedihan dan kesakitan.

Aku melangkah kakiku ke luar rumah ini, melihat bagaimana keadaan tetanggaku yang lain. Semakin lama rasa pedih di pelipis kiri ini semakin menjadi. Keseimbangan tubuhku mulai goyah. Mataku yang sudah teriritasi gas air mata semakin kabur.

Langkahku semakin gontai. Guyuran air hujan yang begitu deras terasa mendorong-dorong tubuh. Mataku berkunang-kunang. Aku tak bisa melihat dengan jelas lagi apa yang ada di hadapanku. Aku tersungkur, ambruk di bawah guyuran air hujan. Tas yang kudekap tertindih di bawah badan. Napasku semakin berat. Mungkin sebentar lagi aku akan kehilangan kesadaran. Samar terdengar teriakan dan tangisan warga di sekelilingku. Tangis lirih mengiringi hilangnya kesadaranku. Hitam, kelam, tak tahu apa yang terjadi.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan