Berlari bersama mimpi Bagian 1

Debu, panas, hiruk-pikuk dan gumpalan asap.Tiga hal itulah yang menjadi komposisi utama dari sebuah kota saat ini. Metropolis atau megapolis kata orang-orang yang memiliki tingkat ilmu lebih. Gedung dan mobil yang memenuhi jalan, juga bisa jadi indikator lainnya. Ya, itulah kota,kota menurut pandanganku sendiri.Apa yang terlihat lebih nyata dari penglihatan mata pemberian Tuhan ini.

Makmur, sejahtera, dan bermartabat. Tiga hal ituyang dijadikan tujuan pemerintah dalam menjalankan sebuah negara. Namun, dalam kenyataannya, makmur dan sejahtera bagisegelintir orang berjas dan berdasi di gedung-gedung tinggi menjulang. Martabat hanya bagi orang-orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan. Lagi-lagi itulah yang menjadi pandanganku sendiri. Salah satu masyarakat penghuni belahan alam lain dari sebuah kota, perkampungan kumuh.

Kota ini memang kalah dari ibu kota. Di sini tak banyak gedung tinggi menjulang yang berdiri. Di sini tak banyak rumah-rumah megah nan berhambur uang dibangun. Satu persamaan yang dimiliki, orang yang berkuasa dan kaya jauh lebih makmur dari orang kebanyakan. Sedikit gambaran realita menyesakkan dada. Mobil-mobil asing yang bentuknya aneh bagiku sudah sering melewati jalanan tak rata, dihuni beberapa lubang di sisi kiri dan kanan.

Setiap hari aku berpacu melawan deru mesin mobil dan sepeda motor dari sisi pinggiran jalan. Kadang kala di jalan pelosok beraspal tanah merah. Dengan kendaraan yang setia menemaniku, gerobak kayu bercat biru dan sepeda yang dilas menyatu dengannya, yang sejak kecil telah membawaku ke sana-sini. Melintasi pinggiran jalan, ikut mengantri di barisan depan saat lampu merah menyaladan berkejaran dengan warga yang tak terima keberadaanku.

Mungkin jika melihat strata sosial, aku sedikit, bahkan sangat sedikit berada di atas orang yang kerjanya cuma meminta-minta di atas trotoar. Sedikit di atas karena aku masih mempunyai kemauan untuk mencari rejeki dari pada harus menadahkan tangan ke pintu-pintu mobil seharian. Tapi jika dipadankan secara lebih sederhana seperti kelas sosial pada sistem feodal, kami semua mungkin memiliki strata yang sama Tanpa Kelas. Memang terdengar seperti tak diacuhkan, tapi memang itulah keadaannya. Kami memang tak bisa memberikan pemasukan bagi pemerintah. Kami mungkin dianggap sebagai tikus yang menghabiskan uang negara. Mungkin dikarenakan pemerintah harus menyalurkan dana yang sangat besar untuk kami, meskipun akhirnya yang tersalur tidak sesuai kenyataan.

Dengan gerobak ini aku telah mengelilingi kota, bahkan luar kota. Jarak yang cukup jauh bagi kebanyakan orang. Ditambah jika harus mengayuh pedal sepeda yang menyatu dengan gerobak ini, teramat melelahkan. Itulah kehidupan ku sehari-hari, memungut barang-barang sisa, membeli kardus bekas dari pedagang. Kehidupan yang jauh lebih berat daripadaorang-orang berdasi yang duduk di kursi dari busa, hanya suka marah dan membentak bawahan yang tidak becus.

Entah sudah berapa kali aku harus mengganti sandal jepit keras,kaku dan terlalu cepat aus. Mungkin karena terlalu lama bergesekan dengan pedal sepeda atau mungkin karena panas yang hampir mengeringkan peluhku. Tragis, tapi seperti itulah keadaannya. Maka tak salah jika temanku sering menyebutku anak sandal jepit. Ejekan yang terdengar biasa, tapi tidakbagi orang yang memiliki ego dan emosi tinggi.

Saat ini aku mengayuh sepeda ke pasar dekat Kantor Walikota. Mungkin saja hari ini banyak kardus-kardus yang mau dijual atau bahkan berhamburan di jalan. Tentu aku tak ingin melewatkan kesempatan itu, peluang emas atau mungkin cuma perak. Berdoa saja, rejeki sudah ditentukan oleh Sang Pencipta, tak akan kemana.

Aku memasuki lingkungan pasar dari sisi barat, tak jauh dari kantor pos yang berdiri gagahdipersimpangan. Pasar sudah mulai sepi, banyak yang tutup. Mungkin aku sudah terlambat, sudah terlalu sore. Rombong-rombong pedagang pasar malam mulai mengatur posisi, berbaris di petak-petak tanpa tanda yang sudah menjadi “wilayah”nya masing-masing.

Aku mengayuhkan sepeda ke toko milik orang hokkian yang berasal dari sumatera. Berharap di tokonya ada sisa-sisa kardus pembungkus spare part mesin. Begitu sampai di depan toko, aku melihat Pak Heri, pemilik toko keturunan thionghoa.

“Koh, ada kardusnya?” tanyaku pada Pak Heri yang sebenarnya sedang membereskan bagian depan toko dengan anak buahnya.

“Oh, kamu Dan! Ada.. ada, itu baru mau dikeluarkan Yanto,” jawab Pak Heri yang tokonya sudah begitu sering kusinggahi. Ia juga sudah tahu namaku, Zaidan, Adan atau cuma dipanggil Dan.

Tak lama keluar Yanto, seorang karyawan toko Pak Heri. Umurnya jauh lebih tua dari Pak Heri, sekitar empatpuluh enam tahun atau lebih tua enam tahun dari Pak Heri. Wajahnya sejak pertama kali kutemui tak berubah. Masih jarang tersenyum dan tatanan rambut seperti kebanyakan orang seumurannya. Bagi orang yang tak mengenalnya mungkin akan berpikir Yanto orang tak bersahabat atau sebagainya.

“Ini kardusnya Dan, aku letakkan di sini, di dalam masih ada sedikit,” kata Yanto saat keluar dari toko.

“Biar saya yang mengambil sendiri, kalau bapak mau mengerjakan yang lain.” Aku sudah terbiasa mengambil sendiri kardus bekas dari dalam toko Pak Heri. Beliau percaya aku tidak akan mengambil yang bukan hakku. Berbeda seperti di tempat lain, sebelum memasuki jalan masuknya saja sudah tertampang tulisan besar berwarna merah di papan putih. “Pemulung dilarang masuk!!!”, begitu kebanyakan isi tulisan yang  terbaca. Penekanan kalimat itu bagiku dan teman-teman sesama pemulung begitu terlihat pada penggunan tiga buah tanda seru. Seolah kami adalahmaling-maling yang berkeliaran mengincar harta benda mereka. Seandainya aku memiliki ijazah yang begitu diagungkan perusahaan, mungkin aku tidak akan jadi seperti ini, setidaknya lebih baik.

Aku masuk ke dalam toko, mengambil beberapa lembar kardus bekas berukuran agak besar. Toko itu dipenuhi spare part mesin yang aku sendiri tak tahu apa gunanya. Hanya ada 4 karyawan termasuk Yanto yang bekerja di toko itu, salah satunya perempuan. Mereka tampak sudah bersiap untuk pulang. Beruntung bagiku datang sebelum mereka pulang. Jika tidak, mungkin saja kardus ini diambil pemulung lain.

Aku mengikat kardus bekas itu dengan tali rafia bekas yang sengaja kubawa sendiri.Aku meletakkannya di dalam gerobak bersama beberapa botol bekas dan potongan pipa berkarat.

“Koh, berapa ini kardusnya?” Aku bertanya pada Pak Heri harga kardus yang ku ambil, meskipun sebenarnya ia selalu memberikannya gratis padaku.

“Ambil aja Dan, tidakusah bayar,” jawab Pak Heri yang juga nampak bersiap pulang.

“Terima kasih koh, saya cari ditempat lain lagi.”

“Lain kali jangan telat, diambil orang lain nanti rejekinya.” Pak Heri sedikit tersenyum.

“Iya koh?, tadi keliling dulu nyari botol. Setelah itu baru ke sini. Lagi pula kalau rejeki juga tidak akan kemana kan, Koh?”

“Tapi jangan jadi alasan untuk menunda-nunda pekerjaan,” kata Koh Heri sebelum kahirnya berlalu ke dalam toko sambil tersenyum.

Aku berlalu dari toko itu. Mencari plastik atau kardus bekas di tempat lain yang mungkin masih berserakan. Melintas di antara rombong-rombong yang memenuhi bahu jalan. Melihat ke beberapa lokasi yangmungkinsaja berserakan plastik.

Aku mungkin sangat terlambat mendatangi pasar ini. Aku sudah didahului pemulung-pemulung lain yang mendapatkan tumpukan emas berupa sampah plastik dan kertas yang berserakan. Tumpukan botol plastik, kertas, kardus dan potongan besi tua di dalam gerobakku hari ini mungkin sudah cukup. Uang hasil penjualannya kelak cukup untuk makanku dua hari ke depan. Uang untuk makan dua kali sehari, dengan nasi yang cukup banyak dan lauk seadanya.

Sudah dua tahun aku bekerja seperti ini. Berbagai pekerjaan telah aku coba dari kecil. Entah siapa sebenarnya orang tuaku, aku tak pernah tahu. Yang aku tahu, sejak kecil sampai empat tahun yang lalu aku tinggal bersama seorang wanita tua yang sehari-harinya bekerja mengumpulkan butiran beras-beras di pasar. Bukan beras yang bersih, tapi beras yang bercampur pasir dan kerikil kecil yang berceceran di tanah.

Dulu, saat umurku masih tujuh tahun, aku menjadi pengamen di beberapa persimpangan jalan. Entah berapakali dulu aku harus tertangkap Satpol PP yang biasa mengadakan razia untuk orang-orang sepertiku dan sampah-sampah masyarakat lainnya. Tapi, untuk mencari uang aku tetap kembali menjadi pengamen.

Saat umurku sebelas tahun, aku sempat menjadi kuli bangunan dan kuli angkut di pasar. Saat itulah akhirnya wanita tua yang telah merawatku sejak kecil meninggalkanku. Tertabrak sepeda motor yang melintas dengan sembrono, seolah tak tahu bagaimana cara mengendarai sepeda motor di jalan. Saat itulah aku jadi benar-benar sendiri, sungguh! Itulah kali pertama aku merasakan hal yang dinamakan kehilangan dan ditinggalkan oleh orang yang benar-benar berarti.

Dan kini, saat umurku telah mencapai enambelas tahun, akhirnya aku menjadi seorang pemulung. Mengumpulkan barang-barang yang masih bisa dijual atau membeli dari pemiliknya. Itulah realita yang kuhadapi saat ini. Masih belum merdeka, atau lebih tepatnyabelum merasakan arti kemerdekaan sampai saat ini.

 

*Foto utama oleh: Jose Roberto V Moraes – CC BY

Tinggalkan Balasan